Alat Kontrasepsi: MOW Dan Pil Jadi Primadona Perempuan

Petugas pelakukan layanan KB jenis IUD dan implant di Kecamatan Pondok Aren beberapa waktu laku. DP3AP2KB Tangsel For Bantenekspres.co.id

CIPUTAT,BANTENEKSPRES.ID – Saat ini ada 7 jenis alat kontrasepsi yang ada dipasaran. Yakni kontarsepsi IUD, Metode Operatif Wanita (MOW), Metoda Operasi Pria (MOP), kondom, implant, suntik dan pil.

Alat kontrasepsi tersebut digunakan untuk mencegah kehamilan. Penata Kependudukan dan KB Muda pada Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tangsel Aryo Darmawan mengatakan, tahun ini pihaknya mendapat target jumlah akseptor lebih baik dibanding tahun lalu.

Bacaan Lainnya

“Tahun ini kita ditargetkan mendapatkan akseptor sebanyak 22.696 orang untuk 7 jenis alat kontrasepsi,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.ID, Minggu, 21 September 2025.

Aryo menambahakan, dari 22.696 target tersebut masing-masing adalah IUD targetnya 1.711 dan realisanya sudah 1.546 atau 89,21 persen. Implant targetnya 1.667 dan realisasinya sudah 1.013 atau 60,77 persen, MOW targetnya 455 dan realisasinya sudah 642 atau 141,1persen.

MOP targetnya 2 dan telah mendapat 12 atau 600 persen dari target, kondom targetnya 295 dan realisasinya sudah 830 atau 281,3 persen. Suntik targetnya 18.101 dan realisasinya 7.095 atau 39,2 persen. Dan pil targetnya 443 dan realisasinya 1.997atau 450,7 persen.

“Jadi total target kita 22.696 dan realisasi sampai 31 Agustus 2025 telah mencapai 13.135,” tambahnya.

Menurutnya, KB wanita jenisnya ada IUD, MOW, suntik, implant dan pil namun, metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) hanya MOW, IUD dan implant saja. Sedangkan KB pria ada dua jenis, yakni kondom dan MOP.

“Sampai saat ini capaian paling besar adalah MOP, targetnya 2 akseptor atau orang kini telah mencapai 12 orang atau 600 persen. Sekarang saja yang mengantre mau MOP ada 30 orang,” jelasnya.

Sedangkan realisasi paling kecil adalah kontrasepsi jenis suntik yang baru 39,2 persen. “Ini karena mungkin orang sudah beralih ke KB implant dan IUD,” tuturnya.

Aryo menjelaskan, pihaknya saat ini mengarahkan agar perempuan menggunakan MKJP. “Kalau pakai pil takut lupa minum, efektifitasnya tergantung juga karena bisa juga abis minum pil terus minum kopi atau minum obat lain. Kalau pil tiap hari minum. Implant 3 tahun sekali ganti, IUD 5 tahun sekali,” tutuenya.

Masih menurutnya, KB jenis IUD banyak dilakukan oleh ibu pasca melahirkan dari mulai lahir sampai 42 hari setelahnya. Setelah 42 hari disebut bukan lagi pasca melahirkan tapi, KB biasa atau interval.

“Banyak ibu-ibu pasang IUD sebelum pulang dari rumah sakit pasca melahirkan,” ungkapnya.

Untuk mendapat layanan KB masyarakat bisa mendangani fasikitas kesehatan (faskes), baik puskesmas, rumah sakit umum, rumah sakit swasta, klinik, praktek mandiri bidan maupun pelayanan keliling yang dilakukan oleh dinas.

“Kita itu punya faskes ada sekitar 200 dan semuanya bisa minta alat kontrasepsi (alkon) kekita dan kita punya gudang alkon dan akan kita salurkan ke mereka. Tiap bulan kita buka layanan permintaan alkon, jadi kalau stok alkon menipis boleh minta,” ungkapnya.

“Kalau layanan kontrasepsi ke rumah sakit atau klinik swasta itu alkon, obat, alat itu semua gratis tapi, di swasta ada jasa pelayanan. Kalau di puspkesmas dan RSU semua gratis,” tutupnya. (*)

Pos terkait