SERPONG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Selain permasalahan mebeler (kursin dan meja), ada 7 rombongan belajar (rombel) siswa SMKN 8 Kota Tangsel tidak memiliki ruang kelas untuk proses belajar mengajar. 7 rombel tersebut adalah 6 rombel untuk kelas 12 dan 1 rombel untuk kelas 11.
Sehingga mereka harus belajar menggunakan ruang praktis siswa (RPS) untuk proses belajar mengajar. Diketahui, saat ini di SMKN 8 Tangsel memiliki 11 ruang kelas. Dimana kelas 10 memiliki 6 rombongan belajar (rombel), kelas 11 memiliki 6 rombel dan kelas 12 juga 6 rombel.
Artinya, total ada 18 rombel namun, SMKN 8 Tangsel hanya memiliki 11 ruang kelas dan kekurangan 7 ruang kelas. Setiap kelas atau rombel jumlah siswanya ada 36.
Wakil Kepala SMKN 8 Kota Tangsel Bidang Sarana dan Prasarana Muraja mengatakan, selain kekurangan 6 ruangan untuk kelas 12, pihaknya juga kekurangan 1 ruangan untuk kelas 11.
“Kelas 12 sedang PKL. Yang kurang 1 ruangan itu kelas 11 tapi, kelas 11 itu sedang on job training (OJT). Kelas 11 itu di tahap 1 baru 1 kelas atau rombel yang mengikuti OJT, nantinya sampai tahap 6. Satu tahap waktu OJT sekitar 3 bulan,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Kamis, 7 Agustus 2025.
Muraja menambahkan, sesuai jadwal OTJ tahap 1 baru akan selesai akhir Agustus. “Kalau sampai semua selesai perkiraan bisa 2026 dan itu tergantung industri. Kalau kelas 11 masuk sekolag semua, nantinya 1 kelas (rombel) pakai 1 RPS. Kalau kelas 12 juga sama, yakni kalau sudah masuk akan pakai RPS untuk proses belajar mengajarnya,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SMKN 8 Kota Tangsel, Selasa, 5 Agustus 2025 sore.
Saat sidak, Dimyati mengatakan, SMKN 8 Tangsel memiliki 11 ruang kelas. Nantinya, jika kelas 12 yang saat ini sedang PKL sudah masuk kelas kembali, maka proses belajar mengajar akan menggunakan RPS yang jumlah ruanganannya ada 9 dan bisa digunakan.
“Malah kita sedang berhitung kalau masih punya ruangan kelas 10 akan ditambah kelas 1 lagi, supaya kalau ada yang tidak masuk SPMB bisa tetap sekolah. Tujuannya supaya kita ada penambahan rombel kalau memang ada murid, jangan sampai ada anak yang tidak sekolah,” ujarnya.
Terkait rombel yang masih kurang 7 kelas, Dimyati mengaku pihaknya harus membangun unit sekolah baru (USB). Setelah nantinya ada penambahan USB, maka halaman sekolah yang kondisinya rusak baru akan dibangun atau diperbaiki.
“Inikan sekolah kota dan akan kita prioritaskan. Nanti tahun depan kita cek untuk USB dulu,” tutupnya.
Sementara itu, Kepala SMKN 8 Kota Tangsel Makmun dihadapan Wagub Dimyati mengatakan, sejak 2023 tahun ajaran baru dimulai di SMKN 8 Tangsel dan memiliki 11 ruang kelas. “Kelas 10 ada 6 rombongan belajar (rombel), kelas 11 ada 6 rombel dan kelas 12 ada 6 rombel,” ujarnya.
Makmun mengaku, untuk kelas 12 saat ini sedang melaksanakan praktik kerja lapangan (PKL). Dan bila nantinya mereka masuk sekolah lagi maka proses belajar mengajar akan menggunakan RPS yang jumlahnya ada 9 ruangan.
“Kelas 12 kan ada 6 rombel dan kalau sudah masuk sekolah akan belajar menggunakan RPS,” tambahnya.
Makmun mengaku, saat ini setiap kelas sudah dilengkapi 36 pasang kursi dan meja baru. Kursi dan meja dikirim oleh Dindikbud totalnya ada 36 set dikali 11 kelas. “Kalau di RPS sebagian sudah ada kursi meja,” jelasnya.
Sebelumnya, ratusan siswa SMKN 8 Kota Tangsel belajar di lantai. Kondisi tersebut terjadi sejak 2023. Hal itu terjadi karena sekolah yang berlokasi di Jalan H. Jamat Gang Rais, Kelurahan Buaran, Kecamatan Serpong, Kota Tangsel tersebut belum dilengkapi kursi dan meja belajar.
Namun, pada Selasa, 29 Juli 2025 malam Dindikbud Banten mengirim kursi dan meja ke SMKN 8 Tangsel namun, kondisinya bekas. Setelah ramai diberitakan dan viral, kursi dan meja bekas tersebut diganti dengan yang baru pada Sabtu-Minggu, 1 dan 2 Agustus 2025. (*)
Reporter: Tri Budi










