Kemarau Berkepanjangan, Air PDAM Tirta Madani Mengecil hingga Tak Mengalir Akibat Instrusi Air Laut

Tempat pengolahan air di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Banten, Banten Lama, Kota Serang.

SERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Kemarau berkepanjangan mulai berdampak pada pelayanan air bersih Perumdam Tirta Madani. Sejumlah pelanggan di Kota Serang, mengeluhkan aliran air yang mengecil hingga tidak mengalir sama sekali dalam beberapa hari terakhir.

Direktur Utama Perumdam Tirta Madani, Arif Setiawan, mengatakan gangguan tersebut dipicu penurunan debit air akibat kemarau serta intrusi air laut yang menyebabkan air Sungai Cibanten menjadi asin dan tidak dapat diolah.

Bacaan Lainnya

Kondisi intrusi air laut itu telah berlangsung hampir satu bulan terakhir. Akibatnya, Instalasi Pengolahan Air (IPA) Banten yang memiliki kapasitas produksi sekitar 40 liter per detik tidak dapat mengolah air dari sumber tersebut.

“Selama hampir satu bulan terakhir terjadi intrusi air laut yang menyebabkan air di Sungai Cibanten menjadi asin sehingga tidak bisa diolah,” ujar Arif.

Saat ini, pelayanan air bersih hanya mengandalkan pasokan dari SBS yang melayani dua zona, yakni Kota Serang dan Kasemen. Namun, keterbatasan pasokan membuat distribusi air kepada pelanggan tidak berjalan optimal.

Arif menjelaskan, intrusi air laut terjadi ketika debit air tawar dari wilayah hulu berkurang sehingga air laut dari muara masuk ke aliran sungai. Selain menghambat pengolahan air, kondisi tersebut berpotensi merusak pompa apabila tetap dipaksakan beroperasi.

“Ada dua faktor utama yang menyebabkan gangguan pelayanan saat ini. Pertama, penurunan debit air akibat kemarau. Kedua, intrusi air laut yang menyebabkan air sungai menjadi asin sehingga tidak bisa diolah,” katanya.

Dampak gangguan tersebut dirasakan langsung oleh pelanggan. Aldi, warga Kasemen Bendung, mengaku aliran air PDAM di wilayahnya berkurang dalam beberapa hari terakhir. Air terkadang mengalir sedikit, tetapi pada waktu lain tidak mengalir sama sekali.

“Aliran air dari PDAM sedikit sekali, bahkan kadang-kadang tidak ada. Mungkin sekarang ada, nanti sore tidak ada lagi, begitu terus,” kata Aldi.

Kondisi tersebut mengganggu aktivitas rumah tangga, terutama untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari seperti memasak dan mencuci piring.

“Cukup terganggu, apalagi air dipakai untuk kehidupan sehari-hari, seperti cuci piring dan memasak. Ketika pasokan air berkurang, aktivitas juga ikut terganggu,” ujarnya.

Aldi berharap pihak terkait segera mencari solusi agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau. (*)

Pos terkait