TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID — Pendidikan literasi kini tidak lagi sekadar tentang membaca deretan teks atau menulis di atas kertas. Semangat inilah yang diusung oleh SD Negeri Panunggangan 10 dalam kegiatan Program Literasi yang digelar pada Rabu, 14 Oktober 2026.
Kegiatan yang interaktif dan edukatif tersebut disambut antusiasme dari para peserta didiknya. Para siswa diajak untuk menyelami kekayaan budaya lokal melalui pengenalan legenda Nusantara. Salah satu yang paling berkesan bagi para peserta didik adalah sesi menonton bersama dan menyimak kisah sejarah serta mitos anak Gunung Krakatau, yang divisualisasikan secara menarik untuk anak-anak.
Kepala SD Negeri Panunggangan 10, Dini Wahyudi mengatakan, melalui audio visual ini pihaknya sengaja melakukan pendekatan yang sengaja dihadirkan untuk memperluas cakrawala berpikir anak-anak sejak usia dini. Menurutnya, literasi harus menjadi jembatan bagi siswa untuk memahami identitas bangsa sekaligus mengenali lingkungan sekitarnya.
“Literasi bukan sekadar membaca dan menulis, tapi bagaimana manusia mengenal dirinya dan dunianya,” tegas Dini Wahyudi.
Melalui kisah Anak Gunung Krakatau, mulai dari dahsyatnya letusan di masa lampau hingga terbentuknya kepulauan baru, kata Sini, para siswa tidak hanya belajar aspek geografi dan sejarah, tetapi juga diajak menghayati nilai-nilai kearifan lokal, ketahanan, serta kebesaran alam Nusantara.
Ia berharap, melalui metode pembelajaran berbasis audiovisual dan cerita rakyat ini, minat baca dan kecintaan anak-anak terhadap literasi serta budaya Indonesia akan tumbuh pada anak-anak.
Dia menjelaskan, literasi merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter serta memperluas wawasan anak-anak di era digital saat ini. Oleh karena itu, berbagai kegiatan pembiasaan literasi rutin diterapkan di lingkungan sekolah, mulai dari kegiatan membaca 15 menit baik sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.
“Kami ingin memastikan bahwa anak-anak tidak hanya bisa membaca, tetapi juga memahami dan mampu mengolah informasi yang mereka terima dengan baik. Literasi adalah kunci utama pencapaian belajar mereka,” tandas Dini.
Program literasi di SDN Panunggangan 10 juga melibatkan peran aktif para guru dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Melalui pojok baca di setiap kelas serta berbagai kegiatan apresiasi buku, antusiasme siswa diklaim semakin meningkat dari waktu ke waktu.
Dini menambahkan, melalui konsistensi dalam menjalankan program literasi ini, ia berharap, para siswa dapat tumbuh menjadi generasi yang cerdas, kreatif, dan memiliki daya saing tinggi di masa depan.(*)












