Pemkot Tangerang Perkuat Penanganan Penyakit, Fokus Tindak Lanjut Hipertensi

Wakil Wali Kota Tangerang Maryono Hasan didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang dr. Dini Anggraeni foto bersama usai penandatanganan kerja sama dengan Asosiasi Dinas Kesehatan Indonesia (Adinkes) di Aula Hotel Howard Johnson, Cikokol, Kota Tangerang, Selasa (6/10). Dhuyuf/Banten Ekspres

TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang memperkuat upaya penanggulangan penyakit melalui penguatan pelayanan kesehatan di tingkat Puskesmas. Salah satu fokus yang didorong yakni memastikan hasil pemeriksaan kesehatan masyarakat tidak berhenti pada proses skrining, tetapi ditindaklanjuti hingga pengobatan dan pemantauan kondisi pasien.

Wakil Wali Kota Tangerang Maryono Hasan mengatakan, penguatan tersebut dibahas dalam forum pengendalian penyakit menular dan pencegahan penyakit yang digelar bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang di Aula Hotel Howard Johnson, Cikokol, Kota Tangerang, Selasa (6/10).

Bacaan Lainnya

“Alhamdulillah hari ini melalui Dinas Kesehatan, kami ada forum pengendalian penyakit, baik penyakit menular maupun pencegahan terhadap penyakit,” ujar Maryono.

Menurutnya, evaluasi dan monitoring dilakukan dengan melibatkan Puskesmas serta jajaran kecamatan dan kelurahan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan target pelayanan kesehatan yang ditetapkan pemerintah pusat dapat direalisasikan secara optimal di tingkat daerah.

Dalam kegiatan tersebut, Pemkot Tangerang juga melakukan penandatanganan kerja sama dengan Asosiasi Dinas Kesehatan Indonesia (Adinkes). Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, termasuk peningkatan kompetensi tenaga kesehatan.

Maryono menyebut capaian pelayanan kesehatan di Kota Tangerang saat ini telah melampaui target nasional. Namun, sejumlah indikator yang masih belum optimal tetap menjadi perhatian dan akan terus dikejar hingga akhir tahun.

“Bagi yang kurang, tetap kita akan terus kejar pos-pos mana yang masih harus kita lengkapi, pos-pos mana yang perlu harus kita tindak lanjuti,” katanya.

Ia menambahkan, penguatan pelayanan akan dilakukan melalui kolaborasi dan pendampingan secara berjenjang. Monitoring dapat dilakukan oleh Asisten Daerah I maupun Kepala Dinkes bersama camat, lurah, dan kepala Puskesmas.

“Objeknya adalah masyarakat sebagai sumber daripada pelayanan kesehatan yang ada di Kota Tangerang,” jelasnya.

Maryono berharap kerja sama dengan Adinkes dapat memberikan dampak langsung terhadap kualitas pelayanan kesehatan. “Harapannya adalah pelayanan kesehatan di Kota Tangerang tetap maksimal dan optimal sehingga masyarakat merasa mudah dan puas terlayani dalam hal kesehatan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang dr. Dini Anggraeni mengatakan, kerja sama dengan Adinkes akan diarahkan pada upaya penanggulangan penyakit di Puskesmas. Bentuknya antara lain pelatihan bagi tenaga kesehatan serta monitoring untuk meningkatkan kemampuan petugas dalam memberikan pelayanan.

“Dengan harapan tentunya ada peningkatan kompetensi, peningkatan kemampuan dari nakes, sehingga bisa memberikan pelayanan kesehatan khususnya kaitan dengan penyakit tidak menular dengan baik,” kata Dini.

Dini menjelaskan, salah satu fokus tindak lanjut ke depan adalah hipertensi. Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan, hipertensi menjadi salah satu temuan yang perlu mendapatkan perhatian karena dapat meningkatkan risiko penyakit serius seperti stroke dan penyakit jantung.

Karena itu, Dinkes tidak hanya akan melihat apakah masyarakat yang terdiagnosis hipertensi telah mendapatkan obat. Pemantauan juga dilakukan untuk memastikan kepatuhan minum obat dan apakah tekanan darah pasien benar-benar terkendali.

“Kalau sudah minum obat, terkontrol enggak minum obatnya? Terpantau enggak? Kemudian apakah dari minum obat itu tekanan darahnya terkendali atau enggak,” jelasnya.

Menurut Dini, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan menjadi penting karena penanganan hipertensi tidak sebatas melakukan pengukuran tekanan darah. Petugas juga harus memastikan proses pengukuran dilakukan dengan benar dan alat yang digunakan dalam kondisi terkalibrasi.

“Kalau kita ada kesalahan dalam pengukuran tekanan darah, bisa jadi sebenarnya bukan hipertensi. Atau sebenarnya ini sudah hipertensi tapi kita salah mengukurnya,” katanya.

Selain hipertensi, hasil skrining kesehatan juga menemukan sejumlah persoalan berdasarkan kelompok usia. Pada balita, misalnya, temuan yang banyak dijumpai adalah karies gigi. Sementara pada usia sekolah, salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kurangnya aktivitas fisik.

Pada kelompok usia dewasa, ditemukan dislipidemia atau kadar lemak dalam darah seperti kolesterol dan trigliserida yang tinggi. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor risiko penyakit tidak menular, termasuk hipertensi dan stroke.

Sedangkan pada kelompok lansia, gangguan mobilitas menjadi salah satu persoalan yang ditemukan. Dini menegaskan seluruh hasil skrining tersebut harus ditindaklanjuti agar program pemeriksaan kesehatan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (*)

Reporter: Dhuyuf Khuzaimi

Pos terkait