SERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Serang berupaya, akan meningkatkan gairah pembudidaya ikan baik dari masyarakat maupun nelayan, supaya dapat memenuhi kebutuhan ikan di program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan data yang diperolehnya, kebutuhan ikan untuk memenuhi MBG mencapai 2.000 ton pertahunnya, sedangkan Kabupaten Serang hanya bisa dibawah 50 persen pemenuhannya yang menyebabkan banyak mengambil dari luar daerah.
Kepala Diskan Kabupaten Serang Mohamad Ishak Abdul Rauf mengatakan, program MBG telah meningkatkan gairah pembudidaya ikan baik dari masyarakat biasa maupun nelayan, karena semua ingin bisa memenuhi kebutuhan ikan untuk dapur MBG.
Program MBG ini, merupakan potensi besar yang harus diambil manfaatnya salah satunya ikan jadi menu MBG, dan masyarakat pembudidaya maupun nelayan dapat lebih memaksimalkan potensi besar untuk terpenuhi kebutuhannya.
“Kita berupaya untuk ambil kesempatan ini, agar bisa memenuhi kebutuhan ikan di program MBG, namun ada banyak yang harus kita persiapkan terlebih dahulu. Semoga kedepannya, kebutuhan ikan di MBG dapat terpenuhi asli dari lokal Kabupaten Serang,” katanya, Kamis 29 Januari 2026.
Ishak mengatakan, kebutuhan ikan untuk MBG mencapai 2.000 ton pertahunnya, termasuk untuk kebutuhan umum lainnya mencapai 65 ribu ton pertahun, sedangkan Kabupaten Serang baru bisa dibawah 50 persen pemenuhan kebutuhannya.
“Makanya saat ini, banyak yang ambil ikan dari luar Kabupaten Serang, baik itu untuk MBG maupun kebutuhan lainnya. Saat ini, kita tetap akan bekerja keras para pembudidaya maupun nelayan, dengan sosialisasi, penyuluhan, dan lain sebagainya, supaya melimpahkan ikannya,” ujarnya.
Dikatakan Ishak, potensi perikanan di Kabupaten Serang mulai bergairah dengan adanya MBG ini, dibuktikan dengan banyaknya desa mulai membuat bioflok atau budidaya ikan, serta ada juga masyarakat yang tambaknya rusak mulai dibenerin lagi.
Pemenuhan ikan untuk MBG sudah mulai dilakukan sejak tahun lalu, ada beberapa bioflok yang menyuplai hasil ikannya, rata-rata di setiap kecamatan empat sampai lima desa mempunyai usaha bioflok ikan.
“Sangat luar biasa program MBG ini, dinas perikanan harus menjadi garda terdepan untuk bisa membimbing pembudidaya ikan, dan nelayan agar lebih maksimal hasilnya. Kami menginginkan untuk satu desa, bisa terpenuhi kebutuhan ikan, harus kita perkuat juga dengan kegiatan maupun anggarannya,” ucapnya.
Dikatakan Ishak, pasokan ikan yang paling banyak diminati untuk MBG yaitu ikan tidak berduri seperti Nila, Emas, dan Lele, yang akan diambil dagingnya saja.
“Diolah lagi akan difilet, hanya dagingnya saja yang diambil gitu,” tuturnya. (*)










