Kasus Stunting di Serpong Utara Naik Jadi 36, Jelupang Sumbang 13 Kasus

Sejumlah anak-anak bermain saat peresmian Pos Gizi Cinta Sehat di Kelurahan Jelupang, Kecamatan Serpong Utara, Rabu, 21 Oktober 2026. Tri Budi/Bantenekspres.co.id

 

SERPONG UTARA, BANTENEKSPRES.CO.ID – Kasus stunting di Kecamatan Serpong Utara, Kota Tangsel mengalami peningkatan. Berdasarkan data publikasi stunting pada Agustus 2026, jumlah kasus tercatat mencapai 36, naik dibandingkan 2025 yang sebanyak 29 kasus.

Bacaan Lainnya

Dari jumlah tersebut, Kelurahan Jelupang menyumbang 13 kasus stunting. Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah untuk memperkuat pendampingan terhadap balita yang telah terdata agar pertumbuhan dan perkembangannya dapat dipantau secara optimal.

Hal tersebut disampaikan Ketua Tim Kerja Kesehatan Gizi pada Dinas Kesehatan Kota Tangsel Eka Mulyawati dalam kegiatan peresmian Pos Gizi Cinta Sehat di Keluraham Jelupang yang menjadi Pos Gizi ke-61 di Kota Tangsel.

Menurutnya, program ini merupakan salah satu upaya pemerintah daerah dalam menangani permasalahan gizi, khususnya stunting pada anak. Eka berharap kepada pihak terkait mulai dari dinas kesehatan, kecamatan, kelurahan, hingga masyarakat, untuk bersama-sama mengawal anak-anak yang teridentifikasi mengalami masalah gizi.

Data balita yang membutuhkan pendampingan juga telah disampaikan kepada pihak kelurahan dan kecamatan, termasuk berdasarkan nama dan alamat, sehingga penanganannya dapat dilakukan lebih terarah.

“Ini mohon perhatian kita bersama agar mengawal bayi dan balita yang sudah terdata. Data by name by address-nya juga sudah kami sampaikan ke kelurahan dan kecamatan, sehingga kondisi anak-anak kita bisa terus dikawal agar tumbuh dengan baik,” ujarnya, Rabu, 21 Oktober 2026.

Eka menjelaskan, pembentukan Pos Gizi tidak hanya berfokus pada pemberian makanan tambahan (PMT), tetapi juga mencakup edukasi kepada orang tua, pengukuran tinggi badan, penimbangan berat badan, serta pemberdayaan masyarakat.

“Melalui kegiatan tersebut, orang tua diharapkan memahami pentingnya pemenuhan gizi seimbang dan pemantauan tumbuh kembang anak secara berkala,” tambahnya.

Program intervensi melalui Pos Gizi dari Dinas Kesehatan Kota Tangsel direncanakan berlangsung selama tiga bulan. Dalam pelaksanaannya, pemberian makanan tambahan dilakukan selama lima hari setiap bulan.

“Setelah masa intervensi berakhir, diharapkan terdapat koordinasi lanjutan dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar dukungan pemenuhan gizi bagi balita dapat terus berlanjut,” jelasnya.

Sementara itu, Lurah Jelupang Ridwan Arifin meminta pengurus RW dan RT bersama puskesmas serta kader posyandu aktif memantau kondisi anak-anak yang terindikasi mengalami masalah gizi.

Ia menyebutkan, di RW 6 Kelurahan Jelupang terdapat empat anak yang mengalami stunting. Sementara itu, jumlah kasus stunting di Kelurahan Dukuh yang disebutkan dalam kegiatan tersebut mencapai 13 kasus.

“Dengan adanya upaya ini, kita mendirikan Pos Gizi. Insyaallah bisa menangani masalah stunting yang ada di Kelurahan Dukuh, khususnya di RW 6,” ujarnya.

Ia menegaskan, penanganan stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar anak-anak yang terdata mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan. Karena itu, pengurus lingkungan diminta aktif memantau warganya dan berkoordinasi dengan puskesmas maupun tenaga kesehatan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, keberadaan Pos Gizi tidak hanya berfungsi sebagai sarana pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi ruang interaksi masyarakat. “Melalui kegiatan tersebut, kader, pengurus RT dan RW, serta warga dapat membangun komunikasi dan mengevaluasi pelaksanaan program bersama-sama,” jelasnya.

Ditempat yang sama, Camat Serpong Utara Makmun terus mendorong kolaborasi lintas sektor untuk menekan angka stunting dan berbagai permasalahan kesehatan masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan melalui penguatan pelayanan posyandu serta pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita.

“Upaya penanganan stunting selama ini terus dibahas melalui koordinasi lintas sektor, termasuk dalam kegiatan lokakarya mini (lokmin) yang dilaksanakan setiap tiga bulan,” ujarnya.

Makmun menambahkan, keterlibatan pemerintah kelurahan, pengurus RT dan RW, kader posyandu, puskesmas, serta pihak swasta sangat dibutuhkan agar penanganan masalah kesehatan di lingkungan masyarakat berjalan optimal.

Ia menilai, pelayanan posyandu yang rutin dilaksanakan setiap pekan telah menjadi salah satu sarana untuk memenuhi kebutuhan kesehatan balita. Selain pemantauan tumbuh kembang, kegiatan tersebut juga disertai pemberian makanan bergizi dan vitamin.

“Alhamdulillah, kerja sama antara lurah, RW, RT, dan posyandu semuanya saling mendukung. Peresmian Pos Gizi ini merupakan upaya agar permasalahan stunting yang menjadi keresahan bersama bisa berkurang di wilayah kami,” tambahnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pengurus lingkungan dan pihak swasta yang telah membantu pelaksanaan program, terutama dalam mendukung pemberian makanan tambahan bagi balita.

Ke depan, Kecamatan Serpong Utara berkomitmen mengupayakan agar program PMT dapat terus dilaksanakan di posyandu. Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat intervensi gizi sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan anak.

Namun, ia menegaskan, penanganan masalah kesehatan tidak cukup hanya melalui kegiatan posyandu. Diperlukan dukungan dan informasi berkala dari puskesmas mengenai perkembangan kasus kesehatan di setiap wilayah.

“Saya berharap koordinasi antara puskesmas dan pemerintah kecamatan maupun kelurahan dapat ditingkatkan, sehingga setiap permasalahan dapat diketahui lebih cepat dan ditindaklanjuti bersama,” tuturnya.

Ditempat yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel Alin Hendalin Mahdania mengatakan, pihaknya terus memperluas pembentukan Pos Gizi sebagai upaya menangani masalah gizi dan menekan angka stunting pada balita. Hingga saat ini, jumlah Pos Gizi di Tangsel tercatat mencapai 61 unit, bertambah dari sebelumnya 54 unit.

Penambahan tersebut menjadi bagian dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029, yakni membentuk 108 Pos Gizi yang tersebar di seluruh wilayah Kota Tangsel.

Penambahan jumlah Pos Gizi dilakukan secara bertahap. Perjalanan pembentukan fasilitas tersebut telah berlangsung sejak 2023 hingga saat ini. “Sekarang total Pos Gizi yang ada di Tangerang Selatan menjadi 61, karena sebelumnya sudah terbentuk 54. Perjalanannya cukup lama, dari 2023 sampai sekarang,” ujarnya.

Alin menjelaskan, target 108 Pos Gizi diarahkan agar setiap kelurahan memiliki dua unit. Dengan demikian, keberadaan Pos Gizi diharapkan semakin dekat dengan masyarakat dan mampu menjangkau balita yang membutuhkan pendampingan pemenuhan gizi.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung Kelurahan Jelupang sebagai salah satu wilayah yang telah memiliki dua Pos Gizi. Capaian tersebut dinilai sejalan dengan target jumlah fasilitas yang ditetapkan dalam RPJMD.

Meski demikian, pembentukan Pos Gizi tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan target pembangunan daerah. “Keterlibatan masyarakat dalam mengembangkan layanan tersebut juga dinilai penting untuk memperkuat upaya penanganan masalah gizi di lingkungan masing-masing,” tambahnyam.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan, pos gizi merupakan program yang telah dijalankan Pemkot Tangsel sejak 2023, bahkan sebelum pemerintah pusat mencanangkan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Sebetulnya sebelum Pak Presiden mencanangkan MBG, Kota Tangsel sudah memiliki Pos Gizi. Sasarannya memang balita dan ibu hamil yang membutuhkan. Sekarang program ini terus kita perkuat karena manfaatnya sangat luas,” ujarnya.

Pilar menjelaskan, keberadaan Pos Gizi menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menangani permasalahan gizi anak, termasuk stunting. Meski angka kasus yang ditemukan dinilai tidak terlalu besar, menurutnya, masih terdapat masyarakat yang membutuhkan perhatian dalam pemenuhan gizi.

Karena itu, penanganan stunting tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Diperlukan keterlibatan kader kesehatan, tokoh masyarakat, serta keluarga untuk memastikan anak-anak memperoleh asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan pertumbuhannya.

Pilar yang juga bertugas sebagai Ketua Tim Percepatan Penanganan Stunting Kota Tangsel menegaskan, pemenuhan gizi anak memiliki kaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Menurutnya, anak yang mendapatkan gizi cukup memiliki peluang lebih baik untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, termasuk dalam kemampuan belajar di sekolah.

“Kalau gizinya bagus, insyaallah anak-anak juga bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Perkembangan otaknya bagus, sehingga mereka lebih mudah menangkap pelajaran. Kalau anak-anak susah menangkap pelajaran, bagaimana kita mau menciptakan sumber daya manusia yang unggul?” jelasnya.

Melalui Pos Gizi, anak-anak tidak hanya mendapatkan dukungan pemenuhan makanan bergizi, tetapi juga menjadi sasaran pemantauan pertumbuhan dan pendampingan kesehatan. Sementara itu, ibu hamil yang membutuhkan intervensi turut menjadi perhatian dalam upaya mencegah masalah gizi sejak dini.

Pilar berharap seluruh pihak terus memperkuat kolaborasi agar program Pos Gizi berjalan berkelanjutan dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

“Dengan penguatan program tersebut, Pemkot Tangsel menargetkan penanganan masalah gizi dapat dilakukan lebih optimal sehingga anak-anak tumbuh sehat, memiliki perkembangan yang baik, serta mampu menjadi generasi unggul di masa mendatang,” tutupnya. (*)

 

Pos terkait