TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Agus Purnomo, seorang guru seni di SMP Al Mustofa, yang berlokasi di bilangan Kebon Nanas, Kecamatan Tangerang, memiliki semangat kreativitas di bidang seni, baik seni rupa maupun seni musik. Ia menjadi figur para siswanya. Agus memulai pengabdiannya di sekolah ini sejak tahun 2023, pria asal Tangerang ini telah membawa warna baru dalam cara siswa memandang dan mengekspresikan seni, baik melalui alunan nada musik maupun goresan warna di atas media rupa.
Langkah Agus menuju dunia pendidikan seni bukanlah lintasan yang instan. Berbekal pengalaman panjang di berbagai komunitas seni sejak masa sekolah di salah satu SMA di Kota Tangerang mulai dari teater, pementasan musikal, hingga keterlibatannya bersama seniman senior di Kota Tangerang dan Kota Depok, seni sudah menjadi bagian integral dari hidupnya.
Sebelum akhirnya mendarat di SMP Al Mustofa, ia sempat malang melintang mengajar di berbagai tempat, sanggar, hingga sekolah alam. Uniknya, secara akademis formal, ia menempuh pendidikan tinggi di bidang Pendidikan Agama Islam (PAI) di Bogor. Namun, kecintaannya yang mendalam pada dunia seni rupa dan musik membuatnya terus belajar secara autodidak serta aktif berjejaring dalam ekosistem kreatif.
Menurut Agus, dunia pendidikan seni di sekolah menengah kerap kali menjadi panggung penemuan jati diri bagi para remaja.
“Kalau menurut saya, seni dan agama itu sepertinya menyatu, nggak bisa lepas ya. Kita lihat Sunan Kalijaga saja menggunakan seni wayang untuk dakwah. Itu saya terapkan untuk mengajak anak-anak agar berbuat dan berpikir positif, bagaimana di rumah maupun di sekolah kita bisa terus berkarya.” kata Agus saat ditemui, Rabu, 21 Oktober 2026.
Di kelas seni rupa, Agus tidak hanya menuntut siswanya menghasilkan karya yang indah secara visual, tetapi juga menjadikannya sarana terapi jiwa bagi para remaja yang tengah mencari identitas. Berbagai teknik kreatif ia ajarkan secara bergantian setiap tahunnya, seperti pelatihan sablon Cukil dan DTF, dalam menekuni seni sablon dapat melatih ketelitian, kesabaran dan kedisiplinan.
“Jadi aktifitas Sablon itu bukan hanya kita bisa mengenal teknik cetak saja, tapi kita melatih diri untuk bersabar, disiplin dan teliti,” ungkap Agus.
Ia juga mengajak siswa SMP Al Mustofa memanfaatkan bahan daur ulang untuk dijadikan beragam hasil kreatifitas seperti membuat gantungan kunci, tas dan lainnya. Ia mengajarkan kepedulian lingkungan sekaligus nilai ekonomi.
Melalui metode praktik langsung yang telaten, mulai dari pengenalan alat, penggunaan aplikasi desain digital, ia berhasil merangkul siswa agar menikmati setiap proses kreatif tanpa merasa terbebani.
Beragam kreatifitas dalam teknik seni dia ajarkan kepada para siswa SMP Al Mustofa. Agus menemukan kenyamanan menjadi seorang guru seni.
Namun demikian, menjadi seorang pendidik di jenjang SMP tentu memiliki dinamika tersendiri. Pada masa-masa awal, tantangan administratif seperti penyusunan modul ajar, RPP, hingga menghadapi karakter remaja yang beragam sempat menjadi batu sandungan. Namun, seiring berjalannya waktu, semua tantangan tersebut berubah menjadi sumber kebahagiaan.
Kini, ayah dua anak ini menikmati profesinya sebagai guru yang diidolakan siswanya. Dukungan keluarga serta kehangatan interaksi dengan anak-anak didik di SMP Al Mustofa membuatnya merasa bahwa jalur hidup yang dipilihnya adalah panggilan jiwa yang membahagiakan.
“Secara akademis saya memang PAI, tapi saya sangat menikmati, fresh kalau ngajar seni, baik seni rupa maupun seni musik. Mungkin sudah panggilan jiwa,” ujarnya.
Melalui ketulusan dan pendekatan humanis yang ia terapkan, Agus membuktikan bahwa seni bukan sekadar pelajaran di atas kertas atau bunyi di atas panggung, melainkan jalan hidup untuk membentuk karakter generasi muda yang peka, kreatif, dan berakhlak mulia.(*)










