Dinkes Kota Tangsel Desak Perbaikan Total WTP Serpong Lagoon

Dinkes Kota Tangsel Desak Perbaikan Total WTP Serpong Lagoon
Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan (dua kanan) melakukan sidak di instalasi pengolahan air atau Water Treatment Plant (WTP) Perumahan Serpong Lagoon. Humas Pemkot Tangsel For Bantenekspres.co.id

SETU, BANTENEKSPRES.CO.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel meminta pengelola instalasi pengolahan air atau Water Treatment Plant (WTP) Perumahan Serpong Lagoon melakukan pemeriksaan dan perbaikan menyeluruh.

Langkah tersebut diperlukan setelah hasil uji laboratorium menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada sampel air yang digunakan warga.

Bacaan Lainnya

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tangsel Fitria Oriza mengatakan, hasil pemeriksaan menunjukkan kontaminasi ditemukan pada sampel air dari sejumlah titik di kawasan Serpong Lagoon. Bahkan, angka E. coli pada salah satu sampel air rumah warga mencapai 956.

Sementara itu, sampel dari reservoir WTP menunjukkan angka E. coli sebesar 14, sedangkan sampel dari rumah warga yang menggunakan filter mencapai 660. “Idealnya kadar E. coli pada air di angka nol,” ujarnya, Sabtu, 17 Oktober 2026.

Fitria menambahkan, temuan tersebut menunjukkan kualitas air yang disalurkan kepada pelanggan belum memenuhi persyaratan untuk digunakan secara aman.

Karena itu, Dinkes Kota Tangsel merekomendasikan penghentian sementara distribusi air dari PT Arfa Putra Soegama hingga kualitasnya dipastikan memenuhi standar.

“Artinya air yang disalurkan ke rumah-rumah warga pelanggan tidak layak pakai,” tambahnya.

Mantan Kepala Puskesmas Pamulang ini mengingatkan, penggunaan air yang terkontaminasi E. coli berisiko menimbulkan gangguan kesehatan. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain mual, muntah, diare, dan demam.

Namun, hubungan langsung antara kontaminasi air dan keluhan kesehatan warga masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut. “Selama persoalan belum teratasi, warga diminta menggunakan sumber air alternatif yang terjamin kebersihannya,” jelasnya.

Untuk kebutuhan minum, Fitria menyarankan masyarakat menggunakan air minum kemasan yang higienis. Dinkes juga meminta pengelola memeriksa instalasi pengolahan air serta jaringan perpipaan secara menyeluruh.

Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui sumber kontaminasi, termasuk kemungkinan masalah pada proses pengolahan, sumber air baku, maupun jaringan distribusi menuju rumah pelanggan.

“Warga juga diimbau membersihkan tandon penampungan air secara rutin guna mengurangi risiko kontaminasi,” tutupnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan turut meminta pengelola WTP segera menyediakan pasokan air bersih alternatif bagi warga. Permintaan tersebut disampaikan saat pertemuan bersama warga dan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di Perumahan Serpong Lagoon, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Kamis, 15 Oktober 2026.

Pilar mengatakan, pengelola harus bertanggung jawab memenuhi kebutuhan air bersih warga selama proses perbaikan berlangsung. “Pasokan alternatif juga harus diawasi Dinkes dan Dinas Lingkungan Hidup agar sesuai standar kesehatan,” ujarnya.

Pilar menambahkan, Pemkot Tangsel melalui Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang akan mengevaluasi instalasi pengolahan air untuk memastikan sumber permasalahan. Pengelola juga diminta membersihkan dan mendesinfeksi instalasi, mengoptimalkan klorinasi, serta memeriksa kemungkinan kebocoran pipa.

“WTP ini bisa dibenahi secara total. Bukan pembenahan sedikit-sedikit, tetapi secara menyeluruh, mulai dari pengolahan air sampai pendistribusian dan jalur pemipaannya. Itu harus diperbaiki sesuai standar,” terangnya.

Di sisi lain, PT Arfa Putra Soegama menyatakan telah melakukan pengujian laboratorium secara mandiri dengan hasil kadar E. coli di bawah angka 150. Pengelola juga menyebut kontaminasi dapat berasal dari jaringan pipa distribusi.

Perbedaan hasil pemeriksaan tersebut masih perlu ditindaklanjuti melalui pengujian dan pemeriksaan teknis lebih lanjut. Dinkes menegaskan, distribusi air seharusnya tidak kembali beroperasi sebelum hasil pengujian menunjukkan kualitas yang memenuhi persyaratan dan perbaikan diverifikasi oleh perangkat daerah terkait.

Diketahui, sebanyak 145 warga Perumahan Serpong Lagoon, Kecamatan Setu, mengalami gejala diare akut sejak 7 Oktober 2026.

Berdasarkan pemantauan Dinkes Kota Tangsel, sebanyak 67 warga telah sembuh, 67 orang menjalani rawat jalan, dan 11 orang mendapatkan perawatan di rumah sakit. Sejumlah warga mengalami gejala diare, demam, mual, dan muntah dalam waktu yang hampir bersamaan. (*)

Pos terkait