145 Warga Diare, Sampel Air Serpong Lagoon Diuji

SERPONG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Sebanyak 145 warga Perumahan Serpong Lagoon, Kecamatan Setu, mengalami gejala diare akut sejak 7 Oktober 2026. Di tengah penanganan kasus tersebut, warga meminta penjelasan resmi dari pihak pengelola air, sementara pemeriksaan sampel air masih berlangsung untuk menelusuri faktor risiko kejadian tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan, berdasarkan pemantauan hingga 12 Oktober 2026, sebanyak 67 warga telah sembuh, 67 orang menjalani rawat jalan, dan 11 orang mendapatkan perawatan di rumah sakit.
“Sejumlah warga mengalami gejala diare, demam, mual, dan muntah dalam waktu yang hampir bersamaan,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Rabu, 14 Oktober 2026.

Bacaan Lainnya

Menindaklanjuti kejadian tersebut, Dinkes Kota Tangsel bersama UPTD Puskesmas Keranggan telah melakukan penyelidikan epidemiologi, pendataan kasus, pemantauan kondisi warga, pemeriksaan kesehatan, serta pemberian pengobatan kepada warga yang mengalami keluhan.

Dinkes juga mengambil sampel air dari instalasi pengolahan air bersih atau Water Treatment Plant (WTP) dan sejumlah rumah warga. Sampel tersebut diperiksa di laboratorium untuk membantu mengidentifikasi faktor risiko yang berkaitan dengan kejadian diare.

Allin menyebutkan, kasus tersebut dialami berbagai kelompok usia, mulai balita, anak-anak hingga orang dewasa. Berdasarkan pendataan sementara, balita menjadi kelompok yang paling banyak terdampak.

“Kami turut meningkatkan kewaspadaan karena diare termasuk penyakit dengan tingkat risiko tinggi pada Oktober berdasarkan Kalender Hazard Kota Tangsel Tahun 2026,” tambahnya.

Masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan makanan dan minuman, menggunakan air minum yang aman, serta menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk rutin mencuci tangan menggunakan sabun.

Pencegahan diare pada bayi juga dapat dilakukan melalui imunisasi Rotavirus sesuai jadwal. Sementara itu, warga yang mengalami gejala diare diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan, terutama jika keluhan dialami balita, lansia, dan kelompok rentan.

“Penanganan sejak dini diperlukan untuk mencegah dehidrasi dan komplikasi yang lebih serius,” jelasnya.

Di sisi lain, Ketua RT setempat, Heru Cahyono mengatakan, warga mulai melihat peningkatan kasus sejak sepekan terakhir. Jumlah warga yang mengalami gejala serupa terus bertambah hingga pengurus lingkungan melakukan pendataan secara mandiri.

“Iya, memang benar, lagi ada musibah. Warga di Serpong Lagoon banyak yang terkena penyakit diare dan muntaber,” ujarnya.

Heru menambahkan, pendataan awal dilakukan oleh ibu-ibu di lingkungan setempat setelah jumlah warga yang mengalami keluhan semakin banyak. Sebelumnya, kasus tersebut belum terdata secara menyeluruh.

“Ramainya mulai seminggu belakangan. Sebelumnya sempat tidak terdata, tapi karena jumlahnya makin masif, akhirnya dilakukan pendataan oleh ibu-ibu di lingkungan sekitar,” tuturnya.

Ia menyebutkan, warga terdampak berasal dari berbagai kelompok usia. Namun, anak-anak menjadi kelompok yang paling banyak mengalami gejala muntah dan diare.

“Gejalanya hampir sama semua, yaitu muntah dan diare. Untuk korbannya sebenarnya campuran antara dewasa dan anak-anak, tetapi memang kebanyakan korbannya adalah anak-anak,” tuturnya.

Heru mengatakan, dugaan persoalan kualitas air dari WTP menjadi salah satu hal yang disoroti warga. Meski demikian, ia menegaskan bahwa penyebab kejadian tersebut belum dapat dipastikan karena masih menunggu hasil pemeriksaan sampel.

“Kepastiannya masih dalam proses pengujian sampel,” ungkapnya.

Pihak kelurahan bersama Dinkes dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel telah mengambil sampel air di seluruh RT di lingkungan perumahan tersebut pada Jumat pekan lalu.
“Dari pihak kelurahan, Dinkes, dan DLH sudah turun langsung ke lapangan untuk mengambil sampel air di semua RT yang ada di lingkungan kami,” tuturnya.

Tak hanya menunggu hasil pemeriksaan pemerintah, pengurus RT dan RW berencana mengambil sampel air secara mandiri melalui pihak swasta untuk memperoleh hasil pembanding. Warga juga telah melayangkan surat kepada pengelola air guna meminta penjelasan resmi terkait kejadian tersebut.

Persoalan ini rencananya dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD dan para pemangku kepentingan terkait. Hingga kini, penyebab pasti kejadian diare yang dialami 145 warga tersebut belum dapat dipastikan. Hasil pemeriksaan laboratorium diharapkan membantu mengidentifikasi faktor risiko sekaligus menjadi dasar tindak lanjut bagi pihak terkait. (*)

Pos terkait