JATIUWUNG, BANTENEKSPRES.CO.ID — SD Negeri Keroncong Mas Permai (KMP) yang berlokasi di bilangan Kecamatan Jatiuwung, terus memperkuat dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang ramah, setara, dan terbuka bagi seluruh anak.
Sebagai salah satu sekolah penyelenggara pendidikan inklusi yang menerima siswa berkebutuhan khusus (ABK) melakukan peningkatan kapasitasnya.
Kepala SD Negeri KMP, Tuti Sholihah menegaskan, setiap anak memiliki hak dasar yang sama untuk mendapatkan kesempatan belajar dan tumbuh berkembang.
Dengan mengusung semangat Bersama dalam keberagaman, mewujudkan pendidikan yang setara”, SDN Keroncong Mas Permai berupaya memastikan ABK mendapatkan hak pendidikan yang setara dan belajar berdampingan bersama siswa reguler dalam suasana yang saling menghargai.
“Kita terus memperkuat sekolah inklusi ini dengan semangat kebersamaan dalam keberagaman untuk mewujudkan pendidikan yang Setara, karena semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang sama,” tegas Tuti saat dihubungi, Minggu, 4 Oktober 2026.
Ia menyampaikan, pihak sekolah juga menggelar Workshop Inklusi dengan mengusung tema Dari Empati ke Aksi, pada pekan lalu.
Kegiatan workshop bagi tenaga pendidik dan orang tua tersebut dirancang sebagai ruang belajar bersama yang memiliki tujuan untuk memperkuat pemahaman serta praktik pendidikan yang setara bagi setiap peserta didik tanpa terkecuali.
“Pada kegiatan Workshop itu kami mengajak para guru dan orang tua bersama-sama membangun empati terhadap keberagaman peserta didik, menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, serta mengubah empati menjadi aksi nyata untuk mendukung setiap anak agar dapat tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal,” jelasnya.
Dikatakannya, pelaksanaan workshop ini juga menyoroti pentingnya sinergi antara pihak sekolah dan keluarga. Tuti mengungkapkan, bahwa kolaborasi yang erat memberikan sejumlah dampak positif yang signifikan bagi perkembangan peserta didik.
Ia menyebut, dukungan emosional yang kompak dan berkesinambungan antara guru dan orang tua terbukti mampu meningkatkan rasa percaya diri anak, baik dalam bersosialisasi maupun dalam menyerap materi pelajaran di kelas.
“Kehadiran ruang inklusi tidak hanya memberikan manfaat besar bagi siswa berkebutuhan khusus, tetapi juga menjadi sarana efektif melatih siswa reguler untuk menumbuhkan sikap toleransi, kepedulian, dan empati terhadap sesama sejak usia dini,” katanya.
Melalui langkah nyata ini, ia berharap, dapat terus menjadi pelopor pendidikan inklusif yang inspiratif, di mana setiap perbedaan dan setiap anak dirangkul untuk menggapai masa depan yang cerah. (*)











