Pengalaman Ali Basuni, Kepsek SDN Sudimara I, 5 Tahun Mengajar di Permukiman Baduy Jalan Kaki hingga 6 Kilometer

Kepala SD Negeri Sudimara I, Ciledug, Ali Basuni.

CILEDUG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Perjalanan hidup seorang pendidik sejati seringkali diwarnai oleh liku-liku perjuangan yang membekas dalam ingatan. Inilah yang dirasakan oleh Ali Basuni, Kepala SD Negeri Sudimara I, yang berlokasi di bilangan Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang.

Pria asli asal Betawi yang lahir di Tangerang pada 12 Maret 1968 ini, masa pengabdian yang telah menjejaki selama 32 tahun mendedikasikan diri sebagai guru di sekolah dasar (SD). Sebagian besar, hidup Ali untuk mencerdaskan anak bangsa khususnya di tingkat sekolah dasar.

Bacaan Lainnya

Kisah kepedulian dan ketulusan Ali bermula pada tahun 1993, ketika ia resmi diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan langsung ditugaskan mengajar di kawasan Permukiman masyarakat suku Baduy, Kabupaten Lebak, Banten. Selama kurang lebih lima tahun di sana, berbagai pengalaman suka dan duka membentuk karakternya sebagai seorang guru yang tangguh.

“Mengajar di tengah masyarakat Baduy itu sangat berkesan, disana itu guru itu sangat dihormati, semua orang tua murid sangat menghormati guru. Mereka sangat ramah, luar biasa penghargaannya,” ungkap Ali saat ditemui di ruang kerjanya, Senin, 28 September 2026.

Ali menceritakan, tantangan geografis pada masa itu bukanlah hal sepele. Dengan berjalan kaki menempuh jarak lima hingga enam kilometer dari satu titik ke titik lain tanpa adanya kendaraan bermotor, Ali menjalaninya dengan ikhlas. Kendala bahasa sempat menjadi hambatan lucu sekaligus menantang di awal penugasannya. Ali yang asli dari suku Betawi harus beradaptasi mengajarkan murid kelas rendah menggunakan bahasa Sunda, sementara ia sendiri belum sepenuhnya fasih.

“Anak kelas 1 dan 2 masih menggunakan bahasa ibu (Sunda), sementara saya menggunakan bahasa Indonesia dan saya sempat bingung dibuatnya, karena gak begitu paham bahasa sunda. Tapi di sanalah indahnya, semua murid maupun orang tuanya sopan, bahkan sering membawakan buah seperti durian sebagai bentuk kehangatan dan rasa hormat mereka,” kata Ali.

Setelah pengabdiannya yang berkesan di Lebak, gelombang mutasi membawa Ali kembali ke wilayah asalnya. Pada tahun 1998, ayah dari dua orang anak ini mulai mengajar di SD Sudimara Barat V, lalu berpindah ke SD Sudimara VIII, Peninggilan II, hingga akhirnya dipercaya memegang tampuk kepemimpinan sebagai kepala sekolah. Total masa kepemimpinannya sebagai kepala sekolah kini telah mencapai 16 tahun, dimulai sejak penugasannya di SD Sudimara V sekitar tahun 2013.

“Saya diangkat sebagai kepala sekolah tahun 2013, waktu itu di SDN Sudimara V,” ujarnya.

Sebelum diangkat sebagai kepala sekolah, Ali juga pernah membagi waktunya dengan mengajar di SMK PGRI 11 selama lebih kurang delapan tahun pada sesi sore hari. Namun demikian, ia akhirnya memutuskan fokus sepenuhnya pada manajemen sekolah dasar setelah menakhodai SDN Sudimara V demi menghindari benturan jadwal kegiatan luar dan rapat.

Di luar tugas administratif dan mengajarnya di sekolah, Ali juga menunjukkan komitmen tinggi terhadap profesi guru melalui organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Berkat dedikasinya yang konsisten, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua PGRI Cabang Ciledug hingga saat ini.

“Ketua PGRI Cabang Ciledug ini periode kedua,” katanya.

Bagi Ali Basuni, profesi guru bukan sekadar mencari nafkah, melainkan sebuah panggilan jiwa yang dijalani dengan ketulusan hati. Dari bilik kelas sederhana di kawasan permukiman Baduy, Kabupaten Lebak hingga memimpin satuan pendidikan di perkotaan modern saat ini, jejak langkah Ali Basuni adalah potret nyata ketekunan, integritas, dan cinta kasih yang mendalam bagi dunia pendidikan Indonesia.(*)

 

 

 

Pos terkait