TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Menjelang Lebaran, tradisi mudik biasanya menjadi momen paling dinanti para perantau. Namun, di tengah kondisi ekonomi yang belum pulih, keinginan itu kini tak lagi menjadi prioritas bagi sebagian orang.
Bagi Anisa, perantau asal Pandeglang yang kini tinggal di Sukabumi, Lebaran tahun ini kembali dilalui tanpa perjalanan pulang kampung. Sudah tiga tahun berturut-turut, ia menahan rindu karena kondisi keuangan yang belum memungkinkan.
Usahanya sebagai pedagang yang belakangan sepi pembeli membuat penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Di tengah situasi itu, biaya mudik yang tidak sedikit menjadi beban tambahan yang sulit dipenuhi.
“Pengennya mudik, apalagi sudah lama nggak ketemu keluarga. Tapi kondisi sekarang belum memungkinkan,” ujar Anisa, Kamis 19 Maret 2026.
Menurutnya, ongkos transportasi hingga kebutuhan selama di kampung halaman membuat rencana mudik harus dipikirkan berulang kali. Dengan pemasukan yang menurun, ia memilih lebih berhati-hati dalam mengatur keuangan.
Kondisi yang dialami Anisa bukanlah kasus tunggal. Lesunya daya beli masyarakat turut berdampak pada pelaku usaha kecil, sekaligus memengaruhi keputusan banyak perantau untuk menunda mudik tahun ini.
Hal serupa dirasakan Nadira, seorang mahasiswa yang juga memutuskan tidak pulang ke kampung halaman. Ia menilai, di tengah tekanan ekonomi, mudik justru menjadi pengeluaran besar yang perlu ditekan.
“Kalau dihitung, ongkos pulang-pergi bisa sekitar Rp3 juta. Itu belum termasuk kebutuhan lain selama perjalanan, jadi cukup membebani,” ujarnya.
Kenaikan harga tiket, terutama transportasi udara, semakin memperberat keputusan tersebut. Nadira menyebut harga tiket yang sebelumnya berkisar Rp500 ribu hingga Rp800 ribu kini bisa mencapai Rp1,5 juta per orang untuk sekali jalan.
Jika dihitung untuk satu keluarga, biaya yang harus dikeluarkan bisa melonjak drastis.
“Kalau untuk keluarga berempat, bisa lebih dari Rp30 juta. Itu belum termasuk biaya lain seperti bagi-bagi uang ke saudara,” katanya.
Meski begitu, faktor ekonomi bukan satu-satunya alasan. Nadira mengaku, kedekatan dengan keluarga tetap terjaga meski tidak bertemu saat Lebaran. Orang tuanya kerap bergantian mengunjunginya, sehingga mudik tidak lagi menjadi keharusan.
“Jadi tidak ada rasa harus banget mudik. Ketemu juga bisa di waktu lain,” ungkapnya.
Fenomena ini tercermin dalam data pemerintah. Kementerian Pariwisata mencatat sekitar 4,2 juta warga memilih tidak mudik dan merayakan Idulfitri di Jakarta.
“Betul, dari data yang ditampilkan ada sekitar 4 juta lebih masyarakat di Jakarta yang tidak akan mudik,” ujar Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf, Ni Made Ayu Marthini.
Sementara itu, data Kementerian Perhubungan menunjukkan tren penurunan jumlah pemudik dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, jumlah pemudik tercatat 162,2 juta orang, kemudian turun menjadi 154,6 juta pada 2025, dan diproyeksikan kembali menurun menjadi 143,9 juta pada 2026.
Penurunan ini diduga kuat dipengaruhi oleh masih lesunya daya beli masyarakat. Dilansir dari BBC Indonesia, Pakar ekonomi dan kebijakan publik dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menjelaskan, meningkatnya pengeluaran yang dipicu kenaikan harga tidak sebanding dengan pertambahan pendapatan masyarakat saat ini.
Inflasi yang terus merangkak, kata Wijayanto, juga berpengaruh sehingga daya beli masyarakat makin lemah.
“Orang-orang akhirnya memilih mengeluarkan uang pun untuk kebutuhan primer. Seperti yang paling terdekat, kebutuhan tahun ajaran baru sekolah anak. Gaji yang tidak naik, tapi pengeluaran terus melonjak kan membuat masyarakat makin menahan spending untuk antisipasi masa depan,” kata Wijayanto. (*)











