Kerajinan Batu Fosil Tembus Mancanegara

PROSES PEMBUATAN : Pengrajin batu fosil terlihat sedang melakukan proses pembuatan batu fosil, di lokasi karajinan batu fosil Desa Parigi, Kecamatan Cikande, Rabu (16/2).

SERANG – Kerajinan batu fosil di Desa Parigi, Kecamatan Cikande, mampu menembus pasar Mancanegara. Penjualan yang dilakukan melalui Media Sosial (Medsos) ini, dilirik oleh beberapa Negara seperti Jepang, Hongkong, China hingga Austria. Hasilnya, keuntungan yang diperoleh dari penjualan Mancanegara itu bisa mencapai Rp500 juta per tahunnya.
Pantauan di lokasi, terlihat banyaknya ukiran-ukiran batu fosil yang berbeda-beda, mulai dari bahan mentahannya hingga menjadi ukiran meja makan. Tidak hanya batu fosil, ada juga dari akar kayu yang sudah berbentuk menjadi burung elang dan juga dari batu alam hingga batu tetesan air goa yang sudah mengering.
Pemilik Kerajinan Batu Fosil, Ipay Rifai mengatakan, untuk harga jual batu fosil pihaknya mematok harga Rp5000 ribu hingga Rp400 ribu perkilonya tergantung dari tingkat kesulitan pembuatannya dan jenis batu fosilnya. Namun, sejak adanya pandemi Covid-19 di 2020 penjualan batu fosilnya semakin menurun bahkan pihaknya pernah tidak mendapatkan keuntungan dari kerajinan batu fosil tersebut.
Menurut Ipay, penjualan yang dilakukan saat ini hanya ditingkat lokal saja seperti Bali, Jogja, Bandung dan Jakarta.”Sekarang kita kesulitan adanya Covid-19 ini, kita pernah hampir satu tahun tidak ada penghasilan pas awal adanya Covid-19 di 2020. Kemudian, karena tidak bisa ekspor jadinya kita hanya jual di lokal saja kaya ke Bandung, Bogor, Jakarta dan lainnya,” katanya kepada Tangerang Ekspres di lokasi karajinan batu fosil, Rabu (16/2).
Ipay mengatakan, batu fosil ini didatangkan dari berbagai daerah seperti Lampung, Jambi, Garut, dan Aceh. Namun, menurutnya batu fosil dari Banten jauh lebih bagus karena memancarkan warna terang. Sedangkan, untuk batu fosil yang diambil dari luar daerah itu bentuknya lebih besar dan keras. “Kebanyakan kita ambil batu Banten sih tepatnya di Rangkas Bitung, karena melihat dari ciri khas juga dan batu nya itu lebih bagus,” ujarnya.
Ipay meminta, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang bisa membantu dalam proses pemasarannya di masa pandemi Covid-19 ini. Kemudian, bisa dapat membantu meringankan modal awal pembuatan batu fosil ini.”Semoga pemerintah bisa membantu kami, meningkatkan terus kerajinan batu fosil ini. Sekarang ini susah, kita pengen jual satu batu kecil aja kadang satu bulan itu tidak dapat,” ucapnya.
Sementara itu, salah satu pengrajin batu fosil Muhamad Ismail mengatakan, proses pengerjaannya dimulai dari bahan mentah yang dikupas lalu proses pengukiran batu. Setelah itu, proses pengamplasan mulai dari 80 pengamplasan terus naik ke 100 hingga 1000. Kemudian, finishingnya dipoles kembali menggunakan kardus. “Melihat dari tingkat kerumitan batu nya, kalau batu nya kecil bisa sampai seminggu beres kalau yang besar bisa sampai tiga bulan hingga enam bulan pengerjaannya,” katanya.
Selain kerajinan batu fosil, kata Ismail, pihaknya juga membuat prodak lainnya seperti tas yang terbuat dari karung goni, dan beberapa prodak yang sekiranya dapat diminati banyak orang.”Paling hiasan batu kelor, pancawarna, kristal, akik, giok yang paling diminati, kita juga buat tas dan lainnya,” ujarnya. (mg-7/and)

Cek artikel bantenekspres.co.id yang Anda minati di: Google News

Pos terkait