TANGERANG, BATENEKSPRES.CO.ID – Di tengah deru modernisasi kawasan Ciledug, Kota Tangerang, tersimpan sebuah kisah pengabdian yang sarat akan ketulusan dan ketekunan. Adalah Agus Solihin, seorang figur yang kini dikenal luas sebagai Penilik Pendidikan Nonformal jenjang PAUD/TK dan PKBM di wilayah Ciledug.
Di balik profesionalismenya saat ini, terselip sebuah lintasan hidup yang luar biasa. Sebuah metamorfosis dari seorang penjaga sekolah dengan gaji puluhan ribu rupiah menjadi abdi negara yang mengawal mutu pendidikan.
Perjalanan hidup Agus Solihin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah tembok tebal yang menghentikan mimpi, melainkan batu loncatan untuk melangkah lebih tinggi.
Kisah pengabdian Agus di dunia pendidikan dimulai pada era 1980-an. Berbekal ijazah Sekolah Menengah Atas (SMA) serta keaktifannya di kegiatan Pramuka, ia mendapat mandat dari Kepala Sekolah SD Sudimara 3 untuk mengabdi sebagai penjaga sekolah sekaligus tukang menyeberangkan anak-anak sekolah.
“Saya kan awalnya hanya ditugaskan sebagai Satpam, tukang nyeberangin anak-anak sekolah. Waktu itu digaji Rp30.000. Itu waktu tahun 1980-an sampai Tahun 1987,” kenang Agus mengenang masa-masa awal perjuangannya.
Pendapatan sebesar Rp30.000 setiap bulannya pada masa itu tentu sangat pas-pasan. Namun, tekadnya untuk mengubah nasib melalui ilmu pengetahuan jauh lebih besar. Seluruh keringat dan hasil kerja kerasnya sebagai penjaga sekolah disisihkan untuk membiayai kuliah. Ia menimba ilmu di Kampus Purna Aba, lalu melanjutkan studi S1, hingga meraih gelar Magister Pendidikan (S2) di Uhamka, Jakarta.
Konsistensi Agus di dunia pendidikan terus berlanjut. Sambil bekerja di media cetak sekitar tahun 1999, ia mengabdikan diri sebagai guru honorer olahraga di SD Muhammadiyah, lalu berpindah mengajar di SD Al-Mubarok Ciledug pada tahun 1998. Titik balik kepemimpinannya terlihat nyata ketika pada tahun 2001 ia dipercaya memimpin SD Muhammadiyah 3 sebagai Kepala Sekolah.
Tantangan di awal kepemimpinannya tidaklah mudah. Sekolah swasta tersebut di ambang keprihatinan dengan jumlah murid yang sangat terbatas serta kondisi fisik bangunan yang memprihatinkan.
“Sedih saya lihat sekolahnya mau roboh. Tahun itu kan masih tahun 2000-an itu, belum ada bantuan dari pemerintah, belum lagi kan sekolah swasta, muridnya sedikit. Kita bingung dari mana dananya,” ungkap Agus.
Dengan visi kepemimpinan yang kuat, Agus memutar otak. Ia melahirkan sejumlah program unggulan yang religius dan berkarakter, di antaranya pengembangan hafalan Asmaul Husna serta kewajiban tadarus agar setiap lulusan hafal Juz 30. Buah dari ketekunan tersebut mulai tampak; perlahan kepercayaan masyarakat pulih. Hanya dalam waktu lima tahun, animo pendaftar melonjak drastis hingga proses penerimaan siswa baru harus ditutup lebih cepat setiap bulan Desember.
Di tengah dinamika kebijakan pendidikan, Agus juga memegang prinsip keadilan sosial yang kuat. Ketika ditanya mengenai program sekolah gratis, ia memiliki pandangan bijak tersendiri mengingat lokasinya yang berbatasan langsung dengan Kota Tangerang Selatan.
“Saya enggak ambil, karena kebanyakan murid-muridnya warga Tangsel (Tangerang Selatan,” tegasnya logis.
Dedikasi panjang Agus membawanya melangkah ke jenjang birokrasi pemerintahan. Pada tahun 2000 ia diangkat menjadi guru bantu, hingga akhirnya resmi dilantik sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagai Penilik pada tahun 2008. Hingga saat ini, sebagai ASN, ia juga diperbantukan untuk terus mengabdi di almamater perjuangannya, SD Muhammadiyah 3.
Tidak berhenti pada pengelolaan sekolah dasar, keterlibatan Agus dalam memajukan lembaga pendidikan di bawah naungan Muhammadiyah terus berkembang. Perguruan Muhammadiyah Ciledug yang berdiri sejak 2 Januari 1970 kini tengah merintis pengembangan fasilitas baru berupa Pondok Pesantren Tahfiz Quran guna memperluas akses pendidikan karakter berbasis keagamaan.
“Tahfiznya sudah lama, cuman kita mau coba nanti tahfiz itu kita pondokan dikit-dikit. Sebelumnya kan boarding school masih berangkat pagi pulang sore. Kita coba tahun depan, makanya saya lagi ngajuin proposal,” tutur Agus yang masa purna baktinya akan tiba pada tahun 2028 mendatang.
Kisah Agus Solihin adalah potret nyata tentang dedikasi tanpa batas. Dari balik seragam satpam penyeberang jalan hingga kursi birokrasi pendidikan, ia membuktikan bahwa ketulusan niat, kerja keras, dan kecintaan pada dunia pendidikan mampu mencetak jejak abadi bagi kemajuan generasi bangsa di khususnya di wilayah Kecamatan Ciledug.(*)












