JAKARTA,BANTENEKSPRES.CO.ID — Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyelenggarakan diskusi publik dan bedah buku Musisi Hijrah: Kebangkitan Islamisme Kultural di Indonesia karya Rahmat Hidayatullah, Dosen Fakultas Ushuludin, UIN Syarif Hidayatullah Ciputat di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (14/10). Kegiatan ini menjadi ruang dialog kritis mengenai fenomena hijrah di kalangan musisi serta persinggungan antara musik, identitas keagamaan, budaya populer, dan gerakan sosial-keagamaan di Indonesia kontemporer.
Buku yang diterbitkan LP3ES pada akhir 2025 ini mengkaji gelombang hijrah di kalangan musisi dari beragam genre, mulai dari rock, metal, punk, hip-hop, hingga pop. Fenomena tersebut tidak semata-mata dipahami sebagai perubahan gaya hidup atau penampilan personal, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika kebangkitan Islamisme kultural di ruang budaya populer Indonesia.
Ketua Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta, Taufik Adam, menekankan pentingnya membuka ruang dialog antara dunia seni dan kebudayaan dengan berbagai dinamika sosial yang membentuk kehidupan masyarakat. Melalui kegiatan ini, DKJ berupaya mendorong pembacaan yang lebih kritis dan reflektif terhadap musik, agama, dan identitas anak muda, sekaligus memperluas percakapan kebudayaan melampaui batas-batas praktik artistik semata.
Senada dengan itu, Ketua Pelaksana kegiatan, Ignatius Aditya, menyampaikan bahwa bedah buku ini dirancang sebagai ruang perjumpaan gagasan yang mempertemukan penulis, akademisi, peneliti, pelaku kebudayaan, dan publik. Forum ini diharapkan tidak hanya memperkenalkan temuan penelitian kepada khalayak yang lebih luas, tetapi juga membuka kesempatan untuk menguji argumen, memperkaya perspektif, dan membangun pemahaman yang lebih mendalam mengenai fenomena musisi hijrah di Indonesia.
Dalam pemaparannya, Rahmat Hidayatullah menempatkan pengalaman hidup sembilan musisi sebagai pintu masuk untuk memahami dinamika hijrah dan keterlibatan mereka dalam berbagai gerakan Islamis. Para musisi yang dikaji meliputi Irfan Sembiring (Rotor), Derry Sulaiman (Betrayer), Sakti Ari Seno (Sheila On 7), M. Hariadi Nasution (Tengkorak), Aditya Rahman Yani (The Fourty’s Accident), Thufail Al Ghifari (rapper), Reda Samudera (Speaker First), M. Kautsar Hikmat (NOAH), dan Ahmad Zarkasy (Purgatory).
Dengan pendekatan etnografi dan biografi interpretatif, buku ini menelusuri proses perubahan orientasi keagamaan para musisi, termasuk pengalaman krisis eksistensial, keterlibatan dalam jaringan keagamaan, dan transformasi sebagian dari mereka menjadi figur rujukan keagamaan bagi kalangan muda Muslim. Buku ini juga menganalisis bagaimana pengalaman hijrah yang bermula dari perjalanan individual dapat berkembang menjadi tindakan kolektif dan konektif melalui jaringan komunitas, subkultur dakwah, serta media digital.
Diskusi menghadirkan tiga penanggap dari latar belakang keilmuan yang berbeda, yaitu Ihsan Ali-Fauzi, Ph.D, pendiri dan Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina; Wahyudi Akmaliyah, Ph.D, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); serta Dr. Roosalina Wulandari, M.Psi., dosen Departemen Psikologi, Fakultas Humaniora, Bina Nusantara University. Diskusi dipandu oleh Dr. Hilmy Firdausy, MA, dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Melalui tanggapan dan pembahasan lintas disiplin, forum ini membuka ruang untuk menelaah fenomena musisi hijrah dari berbagai sudut pandang, termasuk studi agama dan demokrasi, gerakan sosial, budaya populer, dan psikologi. Perbincangan tersebut juga menempatkan fenomena hijrah dalam konteks yang lebih luas, yakni perubahan identitas keagamaan, pembentukan otoritas keagamaan baru, politik identitas pasca-Reformasi, serta interaksi antara gerakan keagamaan dan perkembangan media digital.
Menanggapi berbagai apresiasi, kritik, dan saran konstruktif yang disampaikan para penanggap, Rahmat Hidayatullah menyampaikan terima kasih atas kesediaan mereka membaca, mendiskusikan, dan menguji gagasan-gagasan yang dikembangkan dalam bukunya. Menurutnya, kritik merupakan bagian penting dari tradisi akademik yang sehat dan tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman terhadap sebuah karya, melainkan sebagai kesempatan untuk memperbaiki argumentasi, mempertajam analisis, dan membuka kemungkinan penelitian lebih lanjut.
Ia menegaskan bahwa kritik merupakan obat terbaik bagi pertumbuhan karya ilmiah dan perkembangan ilmu pengetahuan. Sebuah karya akademik tidak semestinya diperlakukan sebagai pemikiran yang telah selesai atau kebal terhadap koreksi. Sebaliknya, kualitas pengetahuan justru tumbuh melalui dialog, perbedaan pandangan, pengujian argumen, dan kesediaan untuk terus belajar. Karena itu, apresiasi, kritik, dan saran yang disampaikan dalam forum tersebut dipandang sebagai kontribusi berharga bagi pengembangan kajian mengenai musik, agama, dan masyarakat Indonesia kontemporer.
Penyelenggaraan bedah buku ini menegaskan relevansi ruang publik kebudayaan sebagai tempat bertemunya beragam perspektif dan pengalaman. Musik tidak hanya dapat dipahami sebagai ekspresi artistik, tetapi juga sebagai arena tempat identitas, nilai, aspirasi, dan orientasi sosial diproduksi serta dinegosiasikan. Dengan mempertemukan dunia seni-budaya dan kajian sosial-keagamaan, diskusi ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman publik tentang perubahan lanskap budaya populer Indonesia, khususnya di tengah pertautan komunitas musik, gerakan keagamaan, dan media digital.
Melalui kegiatan ini, DKJ diharapkan terus menjadi ruang bagi percakapan kebudayaan yang terbuka, kritis, dan multiperspektif. Diskusi tersebut sekaligus membuka peluang bagi penyelenggaraan forum dan kajian lanjutan mengenai musik, identitas keagamaan, budaya populer, dan gerakan sosial di Indonesia.
Buku Musisi Hijrah: Kebangkitan Islamisme Kultural di Indonesia merupakan karya Rahmat Hidayatullah yang diterbitkan LP3ES pada Oktober 2025 dan dikembangkan dari disertasi doktoralnya di Program Doktor Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (*)
Reporter : Miladi Ahmad












