TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang menargetkan 430 ribu warga menjalani tracing tuberkulosis (TBC) yang terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Upaya ini dilakukan untuk mempercepat penemuan kasus TBC sekaligus mencegah penularan di masyarakat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Tangerang dr. Yumelda Ismawir mengatakan, integrasi tracing TBC dengan CKG menjadi salah satu strategi untuk mengurangi stigma terhadap pemeriksaan TBC di masyarakat.
“Ada program untuk penuntasan TBC. Ada kegiatan namanya tracing TBC terintegrasi CKG,” ujarnya kepada Banten Ekspres, Minggu 4 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, sebanyak 430 lokus telah ditetapkan untuk pelaksanaan kegiatan tersebut. Setiap lokus menyasar sekitar 100 warga. Pelaksanaannya dibagi di 104 kelurahan, sehingga setiap kelurahan mendapatkan sekitar empat lokus.
Dinkes melaksanakan kegiatan di lima lokus setiap hari, mulai Senin hingga Sabtu. Pemeriksaan dilakukan menggunakan mobile X-ray maupun screening mandiri melalui inovasi Ransel TBC.
“Jadi ada dua alat dari lima lokus setiap hari itu, tiga menggunakan X-ray, yang dua lagi hanya menggunakan screening seperti biasa. Dan kami dari Dinas Kesehatan melakukan monitoring kegiatan ini di lima lokus tersebut,” katanya.
Menurut Yumelda, Ransel TBC memungkinkan masyarakat melakukan screening secara mandiri tanpa harus selalu didampingi tenaga kesehatan. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan di kelurahan, lingkungan masyarakat maupun posyandu.
Sementara itu, pemeriksaan dengan X-ray dilakukan di lokasi yang telah disesuaikan karena mempertimbangkan aspek keamanan radiasi. Dalam kegiatan tersebut, Dinkes juga melibatkan tenaga profesional, seperti dokter spesialis paru, radiologi, ahli gizi, sanitarian, perawat dan organisasi profesi kesehatan.
Sasaran tracing terutama masyarakat yang memiliki risiko tertular TBC. Di antaranya kontak erat atau kontak serumah dengan pasien TBC serta kelompok berisiko, termasuk pasien diabetes di puskesmas yang memiliki gejala seperti batuk berkepanjangan.
Dikatakan Yumelda, bagi warga yang belum menjalani CKG, pemeriksaan kesehatan dilakukan bersamaan. Pemeriksaan meliputi tanda-tanda vital, berat dan tinggi badan, lingkar perut, tekanan darah, gula darah serta kolesterol, termasuk trigliserida, HDL dan LDL.
Jika ditemukan hipertensi atau diabetes, warga langsung mendapatkan penanganan awal dan obat selama dua minggu. Mereka kemudian diedukasi untuk melanjutkan pengobatan di fasilitas kesehatan atau puskesmas terdekat. Sementara warga dengan kategori obesitas diberikan edukasi terkait kondisi kesehatannya.
Untuk warga yang terindikasi TBC, pemeriksaan dilanjutkan dengan pemeriksaan dahak menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM). Jika hasilnya positif, pasien langsung mendapatkan pengobatan.
Tak hanya pasien, anggota keluarga yang tinggal serumah juga menjadi sasaran pencegahan. Jika satu anggota keluarga dinyatakan positif TBC, anggota keluarga lainnya akan diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
Hingga saat ini, dari target 430 ribu warga, sekitar 19 ribu orang telah menjalani pemeriksaan. Dari jumlah tersebut, sekitar satu persen dinyatakan positif TBC.
Yumelda menegaskan, meningkatnya temuan kasus TBC tidak dapat langsung diartikan sebagai lonjakan kasus. Sebab, semakin banyak screening dilakukan, semakin banyak pula kasus yang sebelumnya tidak terdeteksi dapat ditemukan.
“Untuk membasmi itu, kita harus menemukan kasus sebanyak-banyaknya. Jadi ketika kasus meningkat, bukan dibilang terjadi lonjakan kasus, tapi memang karena kita sedang banyak melakukan screening sebanyak-banyaknya,” pungkasnya. (*)











