RSUD Tigaraksa Gelar FKP 2026, Tampung Aspirasi Warga untuk Tingkatkan Kualitas Pelayanan

FkP RSUD Tigaraksa, melakukan FKP untuk menjaring aspirasi masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Randy/Bantenekspres.co.id

TIGARAKSA,BANTENEKSPRES.CO.ID — RSUD Tigaraksa melaksanakan Forum Konsultasi Publik (FKP) Tahun 2026 sebagai ruang dialog antara rumah sakit dengan masyarakat dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

 

Bacaan Lainnya

Forum tersebut menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, masukan, saran, pengalaman, hingga rekomendasi terkait pelayanan yang diberikan RSUD Tigaraksa.

 

Kegiatan FKP mengusung tema “Mewujudkan Pelayanan RSUD Tigaraksa yang Lebih Cepat, Nyaman, Berkualitas, dan Berorientasi pada Kepuasan Masyarakat.” Forum ini juga menjadi bagian dari evaluasi pelayanan berdasarkan hasil Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) Semester I Tahun 2026.

 

Direktur Utama RSUD Tigaraksa, dr. Muhammad Faridzi Fikri mengatakan, FKP merupakan bagian penting dalam membangun pelayanan rumah sakit yang semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

 

“Forum ini menjadi ruang bagi kami untuk mendengarkan langsung apa yang dirasakan masyarakat selama mendapatkan pelayanan di RSUD Tigaraksa,” ujarnya kepada Bantenekspres.co.id, Kamis 1 Oktober 2026.

 

Menurutnya, masukan dari masyarakat sangat dibutuhkan karena rumah sakit tidak dapat melakukan evaluasi pelayanan hanya berdasarkan penilaian internal.

 

“Kami ingin mengetahui secara langsung pengalaman masyarakat, apa yang sudah baik dan apa yang masih perlu kami perbaiki. Karena masyarakat adalah penerima langsung pelayanan yang kami berikan,” katanya.

 

Faridzi menjelaskan, sejumlah aspek menjadi perhatian dalam evaluasi, terutama berkaitan dengan waktu pelayanan, sarana dan prasarana, serta produk pelayanan.

 

“Dari hasil SKM Semester I Tahun 2026, kami melihat beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dan ditindaklanjuti. Salah satunya adalah bagaimana pelayanan dapat diberikan dengan waktu yang lebih baik,” jelasnya.

 

Ia menegaskan, percepatan pelayanan tetap harus berjalan beriringan dengan kualitas dan keselamatan pasien.

 

“Cepat bukan berarti mengurangi kualitas pelayanan. Kami ingin pelayanan yang cepat, tetapi tetap aman, profesional dan sesuai dengan standar pelayanan kesehatan,” ungkapnya.

 

Selain waktu pelayanan, sarana dan prasarana juga menjadi bagian yang terus dievaluasi. Menurut Faridzi, kenyamanan masyarakat selama berada di lingkungan rumah sakit merupakan bagian penting dari kualitas pelayanan.

 

“Kami juga terus melihat kebutuhan sarana dan prasarana. Masyarakat yang datang ke rumah sakit tentu mengharapkan tempat pelayanan yang nyaman, aman dan mendukung proses pelayanan kesehatan,” tuturnya.

 

Ia menambahkan, FKP tidak boleh hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi harus menghasilkan tindak lanjut yang nyata.

 

“Yang paling penting dari forum ini bukan hanya mendengarkan masukan, tetapi bagaimana masukan tersebut kemudian kami tindak lanjuti. Setiap saran yang masuk akan menjadi bahan evaluasi bagi kami,” tegasnya.

 

Faridzi juga mengajak masyarakat untuk tidak ragu menyampaikan pengalaman maupun kebutuhan ketika mendapatkan pelayanan di RSUD Tigaraksa.

 

“Kami membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk memberikan masukan. Kritik dan saran yang disampaikan secara konstruktif akan sangat membantu kami dalam melakukan perbaikan,” katanya.

 

Menurutnya, pelayanan rumah sakit yang berkualitas merupakan proses yang harus dilakukan secara berkelanjutan.

 

“Kami tidak ingin berhenti pada capaian yang sudah ada. Pelayanan harus terus diperbaiki karena kebutuhan masyarakat juga terus berkembang,” ucapnya.

 

Faridzi menegaskan, RSUD Tigaraksa berkomitmen menghadirkan pelayanan yang lebih cepat, nyaman, aman, berkualitas dan profesional.

 

“Kami ingin masyarakat yang datang ke RSUD Tigaraksa mendapatkan pelayanan yang baik, mendapatkan informasi yang jelas dan merasa dilayani dengan baik,” tambahnya.

 

Ia berharap keterlibatan masyarakat dalam FKP dapat memperkuat kolaborasi antara rumah sakit dan pengguna layanan.

 

“Pelayanan yang baik tidak mungkin dibangun oleh rumah sakit sendiri. Dibutuhkan kolaborasi dengan masyarakat agar setiap kebijakan dan perbaikan yang dilakukan benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan,” pungkasnya. (*)

 

Reporter: Randy Yastiawan

Pos terkait