TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang terus memperkuat pengelolaan sampah dari sumber sebagai upaya mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA). Penguatan dilakukan melalui pemilahan sampah dari rumah tangga, pengembangan bank sampah, hingga optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R).
Kepala DLH Kota Tangerang, Yudi Pradana, mengatakan keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama dalam pengelolaan sampah dari hulu. Menurutnya, sampah harus mulai dipilah sejak dari sumber sebelum dibawa ke tempat pengolahan maupun TPA.
“Yang pasti kita mendorong masyarakat untuk melakukan pemilahan dari sumber. Yang kedua, kita mendorong juga kepada seluruh masyarakat, khususnya di tingkat RT dan RW untuk membuat bank sampah,” ujarnya kepada bantenekspres.co.id, Selasa (18/8).
Ia menjelaskan, sampah yang telah dipilah sejak dari rumah akan lebih mudah dikelola. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomis dapat disalurkan melalui bank sampah, sementara sampah organik maupun jenis sampah lainnya dapat diproses melalui fasilitas pengolahan yang tersedia.
Saat ini, kata Yudi, Kota Tangerang telah memiliki delapan TPS 3R yang beroperasi. Ke depan, DLH akan mendorong agar fasilitas tersebut tidak hanya melakukan pemilahan dan pengolahan sampah organik, tetapi juga dikembangkan dengan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF).
“Kita ada 8 TPS 3R sekarang. Tapi kita akan dorong, karena kalau sekarang masih sampah organik dan pemilahan. Ke depan, kita dorong menggunakan teknologi RDF. Minimal di TPS 3R ini ada RDF di masing-masing TPS 3R,” katanya.
Dikatakannya, untuk tahun ini, DLH fokus pada pengembangan TPS 3R yang berada di wilayah Karawaci. Fasilitas tersebut akan diarahkan untuk mengolah sampah melalui teknologi RDF. Sementara pada tahun berikutnya, pengembangan serupa direncanakan dilakukan di TPS 3R wilayah Cipondoh, termasuk kawasan Dongkal.
Yudi menyebutkan, pengembangan TPS 3R tersebut diharapkan dapat diperluas hingga tersedia di setiap kecamatan. Dengan demikian, sampah tidak seluruhnya harus diangkut menuju TPA karena sebagian dapat ditangani dan diolah di wilayah masing-masing.
“Harapan kita minimal kegiatan-kegiatan berkaitan dengan TPS 3R ini bisa ada di setiap kecamatan,” ungkapnya.
Menurut Yudi, keberhasilan TPS 3R sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Sebab, sumber utama sampah berasal dari aktivitas rumah tangga dan masyarakat sehari-hari.
“Yang paling besar sebenarnya itu peran masyarakat. Karena sampah itu bersumber dari masyarakat. Ketika masyarakat sudah melakukan pemilahan dari sumber, insyaallah pengolahan sampahnya juga pasti akan lebih baik,” jelasnya.
Untuk memastikan TPS 3R tetap berjalan, DLH juga melakukan koordinasi dan pengawasan bersama pemerintah di tingkat kecamatan, kelurahan, hingga RT dan RW. Koordinasi tersebut dilakukan untuk memperkuat pengelolaan sampah sekaligus mendorong masyarakat lebih aktif dalam memilah dan mengurangi sampah.
“Pasti kita koordinasi, mulai dari tingkat kecamatan, kelurahan, RT/RW, kita terus lakukan koordinasi,” tegasnya.
Ia menambahkan, penguatan pengelolaan sampah dari hulu merupakan bagian dari upaya mengurangi beban TPA. Selain mendorong pemilahan, DLH juga mengajak masyarakat mengurangi produksi sampah sejak dari rumah.
“Upayanya kita dorong masyarakat, peran aktif masyarakat untuk melakukan pengurangan sampah, minimal melakukan pemilahan sampah itu dari sumber,” katanya.
Ia juga mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk mulai menerapkan pola hidup minim sampah dengan mengurangi penggunaan produk yang berpotensi menghasilkan banyak sampah.
“Pesannya kepada masyarakat dan kepada semua bidang usaha, kita coba mulai dari diri kita untuk mengurangi sampah, mulai dari rumah tangga. Mudah-mudahan kita menggunakan produk-produk yang tidak menimbulkan sampah,” pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua II DPRD Kota Tangerang, Arief Wibowo, mengatakan pengolahan sampah dari sumbernya menjadi bagian penting dalam mengatasi persoalan persampahan di Kota Tangerang. Menurutnya, pembangunan TPS 3R harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar pembangunan infrastruktur.
“Untuk sampah juga kita mendorong ada upaya untuk perbaikan pengolahan sampah di hulu, antara lain TPS 3R. Tentu saja pembangunannya kita harapkan benar-benar bisa langsung berdampak kepada masyarakat,” ujar Arief.
Selain pembangunan fasilitas, Arief juga menekankan pentingnya program edukasi kepada masyarakat agar pengelolaan sampah dapat dilakukan sejak dari sumbernya, terutama rumah tangga dan lingkungan permukiman.
“Dan juga program-program terobosan untuk melakukan edukasi masyarakat dalam pengolahan sampah di hulu,” katanya. (*)









