Mengurai Tragedi TPA Jatiwaringin Kabupaten Tangerang, Dari Sawah yang Merugi hingga ‘Gunung Emas’ yang Membara

Kilas balik 30 tahun TPA Jatiwaringin, dari bekas galian tanah 17 meter hingga berujung kebakaran hebat 2026 yang menghantui warga Desa Tanjakan Mekar, Rajeg, Kabupaten Tangerang. Foto: Dokumentasi Zakky Adnan/banteneksprea.co.id

 

RAJEG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Cerita itu bermula dari setapak sawah dan kebun di akhir era 1980-an.

Bacaan Lainnya

Di Kampung Jungkel, Desa Tanjakan Mekar, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, para petani lokal awalnya hanya merindukan satu hal sederhana yakni, air yang mengalir lancar ke petak-petak sawah mereka.

Namun, siapa yang mengira, keputusan mengupas tanah puluhan tahun silam justru menjadi awal mula lahirnya ‘gunung sampah’ yang kini mengepulkan asap.

Ustaz Amil Sarifudin, seorang tokoh warga RT 14 RW 06 Desa Tanjakan Mekar, mengingat betul dinamika lingkungan yang dihadapinya selama kurun waktu tiga dekade terakhir.

“Dari tahun 1988 itu belum ada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Hanya sawah dan kebun. Karena posisi sawah tinggi dan tertutup kebun, petani merasa rugi terus karena tidak terairi,” kenang Ustaz Sarifudin saat berbincang hangat, kemarin.

Demi mengalirkan air, para petani kala itu sepakat melakukan pengerukan untuk meratakan kontur tanah.

Sayangnya, lantaran kualitas tanah merah di kawasan tersebut terbilang bagus dan bernilai jual, pengerukan dilakukan melebihi batas kesepakatan awal.

Tanah yang semula hendak diratakan justru dikupas hingga menyisakan lubang galian yang amat dalam.

“Galiannya enggak sesuai dengan tujuan petani. Kedalamannya ada yang 2 sampai 3 meter, bahkan semakin ke sini kedalamannya mencapai 17 meter. Kalau musim hujan jadi danau atau rawa, kalau kemarau tanahnya tidak rata,” ungkapnya.

Kerugian yang beruntun membuat para petani frustrasi. Lantaran terus mengeluhkan hasil panen yang nihil, lahan-lahan galian tersebut perlahan dijual kepada pihak ketiga.

Tanpa sepengetahuan warga sekitar dan tanpa sosialisasi izin yang jelas, kawasan galian itu perlahan beralih fungsi menjadi lokasi pembuangan sampah.

Di awal berdirinya lokasi pembuangan sampah tersebut, iming-iming manis sempat dihembuskan kepada warga. Ustaz Sarifudin menceritakan bagaimana pihak pengelola saat itu menyodorkan semacam site plan atau denah rencana pembangunan kawasan modern.

“Dulu pernah dikasih gambar-gambar, katanya mai dibangun perumahan, ada pasarnya juga. Katanya sampah ini cuma sementara untuk menguruk lubang, nanti ditutup tanah lagi,” tuturnya sambil tertawa miris.

Namun, janji tinggal janji. Denah perumahan itu lenyap ditelan waktu, sementara truk-truk sampah tak kunjung berhenti menumpahkan muatan setiap harinya.

Secara administratif, lokasi TPA tersebut masuk ke dalam wilayah Desa Jatiwaringin, Mauk. Namun, secara geografis, warga Kampung Jungkel di Desa Tanjakan Mekar, khususnya RT 14 RW 06, yang berada tepat di garis batas, justru menjadi pihak yang paling terdampak (frontline).

Selama 30 tahun hidup berdampingan dengan sampah, potensi kebakaran sejatinya sudah menjadi ancaman rutin. Namun, puncak krisis terjadi pada 2026 ini, ketika gundukan sampah yang sudah mengunung tinggi mengalami kebakaran dahsyat.

“Kalau dulu masih berupa ‘se-enclok se-enclok’ terpisah seperti bukit kecil, kalau kebakar gampang dimatikan. Tapi sekarang sampahnya sudah menggunduk seperti gunung, tingginya ada kali 100 meter dari dasar. Kalau bawahnya sudah kena api, sulit padam kalau tidak pakai helikopter dan penanganan cepat,” tegas Ustaz Sarifudin.

Kebakaran hebat di TPA Jatiwaringin 2026 ini menjadi alarm keras bagi tata kelola sampah dan lingkungan di Kabupaten Tangerang. Meski penanganan darurat telah dilakukan armada Pemadam Kebakaran (Damkar) dan bantuan penanganan udara, warga berharap ada penataan sistemik agar bencana asap tak lagi menghantui pemukiman mereka di masa depan.

Bagi Ustaz Sarifudin dan warga Tanjakan Mekar, ‘gunung emas’ sebutan satir warga untuk tumpukan sampah bernilai ekonomi bagi pemulung itu, harus segera dikelola dengan sistem yang aman, agar tak lagi menjadi bom waktu yang siap membara sewaktu-waktu. (*)

 

Pos terkait