Forum KWT Kota Tangerang Edukasi Pengunjung Festival Cisadane 2026

Para pengunjung mengikuti kegiatan edukasi cara menanam tanaman lewat hidroponik. Dhuyuf/Banten Ekspres

 

TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Forum Kelompok Wanita Tani (KWT) Kota Tangerang memanfaatkan ajang Festival Cisadane 2026 untuk mengenalkan pertanian perkotaan (urban farming) kepada pelajar dan masyarakat.

Bacaan Lainnya

Melalui penyuluhan serta praktik menanam hidroponik, Forum KWT ingin menumbuhkan minat generasi muda agar tidak lagi memandang profesi petani sebagai pekerjaan yang kuno. Kegiatan ini berlangsung di stand Dinas Ketahanan Pangan Kota Tangerang pada festival Cisadane, Kamis 23 Juli 2026.

Sekretaris Forum KWT Kota Tangerang, Saputri, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun regenerasi petani di tengah semakin terbatasnya lahan pertanian di wilayah perkotaan.

“Kegiatan hari ini penyuluhan tentang pertanian urban farming di perkotaan. Ada 76 Kelompok Wanita Tani (KWT) yang aktif melaksanakan urban farming di Kota Tangerang,” ujarnya saat diwawancarai bantenekspres.co.id, Kamis (23/7).

Menurutnya, penyuluhan tidak hanya mengenalkan teknik bercocok tanam, tetapi juga membangun semangat generasi muda untuk mencintai dunia pertanian sejak dini.

“Penyuluhan ini tujuannya untuk menciptakan generasi-generasi petani muda atau memotivasi anak-anak untuk belajar bertani. Goals kami adalah mencetak generasi-generasi muda yang mau dan mampu menjadi petani secara modern di Kota Tangerang,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan dengan budidaya sayuran hidroponik mulai dari proses penyemaian benih menggunakan media rockwool, perawatan bibit, hingga masa panen. Ia menyebut jenis tanaman yang dikenalkan di antaranya pakcoy, sawi, dan kangkung.

Ia menjelaskan metode hidroponik sangat cocok diterapkan di wilayah perkotaan karena tidak membutuhkan lahan yang luas.

“Tanaman urban farming ini cocok sekali di perkotaan karena lahannya sudah minim. Ini menjadi salah satu cara agar masyarakat tetap bisa bercocok tanam dengan metode yang mudah dan modern,” jelasnya.

Selain menjadi sarana edukasi, kata dia,  Forum KWT juga terus meningkatkan kapasitas anggotanya melalui berbagai pelatihan. Saat ini terdapat 104 KWT di Kota Tangerang, dengan 76 kelompok aktif mengembangkan pertanian hidroponik.

“Hampir setiap bulannya hasil panen KWT mencapai sekitar 1,2 ton sayuran hidroponik maupun konvensional yang membantu memenuhi kebutuhan sayuran di Kota Tangerang. Kami juga ingin menciptakan ekonomi sirkular dari lingkungan rumah masing-masing,” ungkapnya.

Dikatakannya, forum KWT juga terus mendorong inovasi melalui penerapan Eco-Hydroponic Smart Solar Cell, yakni sistem hidroponik yang memanfaatkan energi matahari sebagai sumber listrik untuk menggerakkan sirkulasi air pada instalasi hidroponik. Ia berharap semakin banyak anak muda yang tertarik terjun ke dunia pertanian.

“Harapan kami semakin banyak generasi muda yang mau bertani. Stigma bahwa petani itu tua dan kotor harus hilang. Kami saja yang berlatar belakang perawat bisa menjadi petani, jadi anak-anak muda jangan ragu untuk mulai bertani,” pungkasnya.

Sementara itu, salah satu peserta penyuluhan, Agha Rabbani, siswa SMPN 19 Kota Tangerang, mengaku mendapatkan pengalaman baru setelah mengikuti edukasi urban farming di Festival Cisadane.

Menurutnya, praktik menanam hidroponik membuatnya lebih memahami bahwa bercocok tanam dapat dilakukan meski tinggal di kawasan perkotaan dengan lahan yang terbatas.

“Saya jadi tahu cara menanam sayuran hidroponik mulai dari penyemaian sampai perawatannya. Ternyata bertani itu menyenangkan dan tidak sesulit yang saya bayangkan,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar agar semakin banyak pelajar mengenal dunia pertanian sejak dini.

“Semoga kegiatan seperti ini sering diadakan, supaya anak-anak seusia saya semakin tertarik belajar bertani dan bisa memanfaatkan lahan yang ada di rumah,” tutupnya. (*)

 

Pos terkait