Sekolah Swasta Gratis di Kota Tangerang Jangkau 27.653 Siswa, Anggaran Capai Rp47,69 Miliar

Sekolah Swasta Gratis, 27.653 Siswa Kota Tangerang Terima Manfaat
Pemerintah Kota Tangerang bersama Dinas Pendidikan Kota Tangerang foto bersama di SMP Excellent 1, salah satu sekolah yang menerima Program Sekolah Swasta Gratis dari Pemkot Tangerang. Foto Dhuyuf/Bantenekpres.co.id

TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang terus memperluas akses pendidikan melalui program sekolah swasta gratis. Pada Tahun Ajaran 2026, sebanyak 27.653 siswa dari 143 sekolah jenjang SD/MI, SMP/MTs menjadi penerima manfaat program tersebut dengan total anggaran mencapai Rp47,69 miliar.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang, Wahyudi Iskandar, mengatakan program sekolah swasta gratis menjadi solusi atas keterbatasan daya tampung sekolah negeri, khususnya di jenjang SMP. Melalui kebijakan ini, Pemkot Tangerang menggandeng sekolah swasta agar seluruh lulusan SD memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan.

Bacaan Lainnya

“Proporsi jumlah sekolah negeri, khususnya tingkat SMP, masih belum mencukupi. Karena itu kami memberdayakan sekolah swasta melalui program sekolah gratis agar kebutuhan kursi bagi lulusan SD dapat terpenuhi dan masyarakat memiliki akses pendidikan yang lebih luas,” ujarnya kepada Bantenekspres.co.id, Minggu 19 Juli 2026.

Wahyudi menegaskan, program tersebut bukan sekadar membebaskan biaya pendidikan, tetapi juga menjamin hak setiap anak memperoleh layanan pendidikan yang layak. Menurutnya, sekolah negeri maupun swasta menerapkan standar pendidikan nasional yang sama, baik dari sisi kurikulum, proses pembelajaran, maupun mutu pendidikan.

“Prinsipnya sekolah swasta dan sekolah negeri memiliki standar kurikulum, standar proses, dan standar mutu yang sama. Jadi sekolah gratis bukan berarti kualitasnya berbeda, tetapi merupakan pintu untuk memperluas akses pendidikan bagi seluruh anak,” tegasnya.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan Kota Tangerang, program sekolah swasta gratis tahun 2026 meliputi 62 SD/MI swasta dengan 8.600 siswa dan anggaran Rp7,74 miliar, 78 SMP/MTs swasta dengan 16.968 siswa dan anggaran Rp37,33 miliar, serta tiga MTs negeri dengan 2.085 siswa dan anggaran Rp2,63 miliar.

Jumlah penerima manfaat tersebut meningkat dibandingkan tahun 2025 yang menjangkau 27.334 siswa di 144 sekolah dengan total anggaran Rp41,61 miliar.

Selain memperluas cakupan penerima manfaat, Pemkot Tangerang juga meningkatkan besaran bantuan pendidikan. Untuk jenjang SD/MI, bantuan diberikan sebesar Rp900 ribu per siswa per tahun. Sementara untuk SMP/MTs swasta, bantuan meningkat menjadi Rp1,1 juta per siswa per semester, naik dari Rp1 juta per siswa per semester pada 2024–2025. Adapun siswa MTs negeri memperoleh bantuan sebesar Rp630 ribu per semester.

Wahyudi mengungkapkan, keberhasilan program sekolah swasta gratis mendapat perhatian pemerintah pusat. Bersama program Tangerang Cerdas, kebijakan tersebut menjadi bagian dari program 3G (Gampang Sekolah) yang kini dijadikan pilot project oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

“Bappenas menjadikan program 3G, yang salah satunya sekolah gratis, sebagai miniatur nasional dan pilot project yang dapat menjadi contoh bagi daerah lain. Mereka meneliti langsung bagaimana tata kelola dan implementasi program ini karena dinilai berjalan secara komprehensif,” ungkapnya.

Ia menambahkan, saat ini program tersebut juga tengah mengikuti penilaian tingkat nasional bersama sejumlah pemerintah daerah lainnya.

Di akhir keterangannya, Wahyudi mengajak masyarakat untuk tidak ragu memanfaatkan program sekolah swasta gratis. Menurutnya, dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), pilihan sekolah swasta gratis telah tersedia sehingga peserta didik yang tidak tertampung di sekolah negeri tetap memiliki akses terhadap pendidikan yang berkualitas.

“Masyarakat tidak perlu khawatir. Pemerintah Kota Tangerang berkomitmen membuka akses pendidikan seluas-luasnya. Sekolah gratis bukan berarti tidak berkualitas. Banyak sekolah swasta yang menjadi contoh dengan animo masyarakat yang sangat tinggi, bahkan sampai memiliki daftar tunggu. Yang terpenting adalah setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk bersekolah,” pungkasnya. (*)

Pos terkait