PONDOK AREN, BANTENEKSPRES.CO.ID – Pemkot Tangsel terus mematangkan rencana pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Bahkan, proyek strategis tersebut ditargetkan memasuki tahap groundbreaking pada tahun ini dan mulai beroperasi pada 2028.
Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, belum lama ini pihaknya telah melakukan pertemuan dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk membahas kesiapan pembangunan PSEL.
Dalam pertemuan tersebut dipastikan bahwa Kota Tangsel telah memenuhi sejumlah persyaratan utama, mulai dari kesiapan lahan hingga ketersediaan pasokan sampah sebagai bahan baku.
“Alhamdulillah kami sudah bertemu dengan Danantara dan memastikan bahwa PSEL Tangerang Selatan siap. Yang pertama mereka memastikan kesiapan lahannya. Insya Allah anggarannya sudah kami siapkan,” ujarnya kepada wartawan, Rabu, 15 Juli 2026.
Benyamin menambahkan, saat ini proses pembangunan tinggal menunggu tahapan appraisal, penetapan lokasi (penlok), sosialisasi kepada masyarakat, hingga pengadaan lahan. Tahun ini Pemkot Tangsel menargetkan pembebasan lahan seluas sekitar 2,4 hingga 2,5 hektare.
“Insya Allah tahun ini lahan seluas 2,4 sampai 2,5 hektare bisa dibebaskan,” tambahnya.
Selain kesiapan lahan, Benyamin menjelaskan pihak Danantara juga memastikan keberlanjutan pasokan sampah sebagai bagian dari kelayakan bisnis proyek tersebut. Pemkot Tangsel telah memaparkan potensi timbulan sampah yang dihasilkan dari jumlah penduduk sekitar 1,4 juta jiwa.
“Saya jelaskan bahwa produksi sampah masyarakat cukup untuk mendukung operasional PSEL. Sebagian memang sudah dikelola kawasan, pasar dan pihak lain, tetapi volume yang ditangani pemerintah tetap mencukupi,” jelasnya.
Benyamin mengaku, sistem bisnis dan pengelolaan operasional PSEL nantinya akan ditentukan oleh pihak Danantara. Sementara pemerintah daerah fokus menyiapkan seluruh kebutuhan pendukung agar proyek dapat segera direalisasikan.
“Kami optimistis targetnya tahun ini bisa groundbreaking dan pada 2028 PSEL sudah mulai beroperasi,” jelasnya.
Benyamin menuturkan, total kebutuhan lahan PSEL mencapai sekitar lima hektare. Saat ini Pemkot Tangsel telah memiliki sekitar 2,5 hektare, sehingga masih membutuhkan tambahan lahan sekitar 2,3 hingga 2,4 hektare.
Selain itu, pemerintah juga telah menyiapkan lahan khusus untuk penanganan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA), yaitu residu hasil proses pengolahan sampah yang harus dikelola agar tidak mencemari lingkungan.
“Kita juga sudah menyiapkan lahan untuk FABA, sehingga secara keseluruhan Kota Tangsel sudah sangat siap menjalankan proyek ini,” terangnya.
Dengan kesiapan tersebut, Benyamin menegaskan Kota Tangsel akan membangun PSEL secara mandiri tanpa bergabung dalam skema aglomerasi pengelolaan sampah dengan daerah lain.
Meski pembangunan PSEL terus dipercepat, Pemkot Tangsel tetap menjalankan program pengurangan sampah dari sumbernya, salah satunya melalui gerakan pembuatan lubang biopori.
“PSEL ini solusi jangka panjang, tetapi produksi sampah akan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk. Karena itu program lubang biopori tetap kami galakkan sebagai upaya mengurangi sampah dari sumbernya,” tutupnya. (*)











