Kisah Bu Amni, Bertahan di Garis Depan ‘Zona Merah’ Kebakaran TPA Jatiwaringin

Kisah pilu Bu Amni (50), warga Kampung Jungkel yang rumahnya masuk zona merah kebakaran TPA Jatiwaringin. Terpaksa pasang oksigen akibat sesak asap pekat. Foto: Zakky Adnan/bantenekspres.co.id

 

RAJEG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Bagi Ibu Amni (50), kata ‘rumah’ yang seharusnya menjadi tempat paling aman dan nyaman, kini berubah menjadi garis depan ancaman.

Bacaan Lainnya

Rumahnya yang terletak di RT 14 RW 06, Kampung Jungkel, masuk dalam zona merah terdampak kebakaran TPA Jatiwaringin.

Bukan sekadar dekat, kobaran api dan kepulan asap pekat tepat berada di depan pelataran rumahnya sejak kebakaran hebat melanda pada hari Selasa lalu.

“Bukan mepet lagi, saya mah di depan rumah sekali, api,” kenang Bu Amni dengan suara yang menyiratkan kelelahan mendalam. “Dari hari kebakaran aja, Selasa. Ke sininya belum reda-reda itu asapnya,” tambah Amni lirih, Senin, 6 Juli 2026.

Ketebalan asap dari gunungan sampah yang terbakar akhirnya menumbangkan pertahanan fisik Bu Amni.

Di saat anggota keluarga lainnya masih bisa pulang-pergi ke rumah untuk sekadar memasak atau berganti pakaian, Bu Amni terpaksa harus menetap di posko pengungsian.

Kondisi kesehatannya menurun akibat paparan asap yang mengepung Kampung Jungkel setiap hari.

Bahkan, ia sempat harus mendapatkan bantuan pernapasan darurat.

“Ini mah saya sakit, habis dioksigen sore-sore. Enggak kuat kalau di rumah,” tuturnya lirih.

Di rumah tersebut, Ibu Amni tinggal bersama suami dan kedua anaknya.

Kini, posko pengungsian menjadi rumah sementara bagi keluarga kecil ini.

Beruntung, di tengah situasi darurat tersebut, pelayanan kesehatan dan kebutuhan logistik dasar masih terjaga dengan baik.

“Pelayanan kesehatan di sini baik. Untuk konsumsi juga biasa, ada dapur umum,” ungkap Ibu Amni, mencoba mensyukuri bantuan yang diterimanya di pengungsian.

Hingga saat ini, api yang melalap TPA Jatiwaringin belum sepenuhnya padam.

Warga Kampung Jungkel, khususnya mereka yang berada di zona merah seperti keluarga Bu Amni, hanya bisa berharap kondisi segera membaik dan udara kembali bersih agar mereka bisa pulang ke rumah tanpa rasa takut akan sesak napas.

Kisah Bu Amni adalah satu dari sekian banyak jeritan hati warga terdampak yang bertaruh kesehatan di tengah bencana polusi asap.

Penanganan cepat dan pemadaman total dari pihak terkait menjadi satu-satunya kunci agar warga Kampung Jungkel bisa kembali merajut asa di rumah mereka sendiri. (*)

 

Pos terkait