MAUK,BANTENEKSPRES.CO.ID – Konflik yang sempat memanas antara nelayan bagan pancing asal Tanjung Kait dan nelayan garok akhirnya menemui titik terang.
Melalui acara sosialisasi dan mediasi yang digelar di Pos TNI Angkatan Laut (Posal) Tanjung Kait, Desa Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, kedua belah pihak sepakat untuk berdamai dan menjaga kondusivitas di laut.
Mediasi ini turut difasilitasi oleh Dinas Perikanan Kabupaten Tangerang yang menghadirkan pihak Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) guna memastikan roda perekonomian para nelayan kembali berjalan tanpa ada rasa saling merugikan.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Tangerang Rudi Hartono menyatakan rasa syukurnya atas tercapainya kesepakatan ini.
Ia berharap konflik yang melibatkan kerusakan fasilitas bagan pancing oleh aktivitas nelayan garok ini menjadi yang terakhir kalinya.
”Alhamdulillah hari ini kita sudah mengumpulkan nelayan garok maupun nelayan bagan pancing yang kemarin ada sedikit persoalan. Setelah mediasi, mereka semuanya bisa kondusif,” ujar Rudi Hartono saat ditemui di lokasi, Selasa, 9 Juni 2026.
Rudi juga menegaskan, pihak nelayan garok berkomitmen untuk menyelesaikan tanggung jawab akibat kerugian yang dialami nelayan bagan pancing. Namun, jika di kemudian hari terjadi pelanggaran serupa, sanksi tegas yang memberikan efek jera telah disiapkan.
“Tadi ada masukan dan dari PSDKP juga mengamini, bahwa nanti kalau terjadi lagi, mungkin perahunya akan ditarik (disita) selama 3 bulan. Dikumpulkan di Posal atau di tempat lain. Ini menjadi bagian efek jera untuk mereka,” tegas Kadis Perikanan Kabupaten Tangerang tersebut.
Sinyal positif juga datang dari perwakilan pemilik bagan pemancingan ikan, Jaro Yanto. Ia mengapresiasi langkah cepat Kementerian KKP dan Dinas Perikanan dalam menengahi konflik horizontal ini.
”Menurut saya sudah cukup baik. Dari Kementerian KKP sudah turun juga ke masyarakat untuk menengahkan permasalahan. Mudah-mudahan setelah ini tidak ada permasalahan lagi di bawah, sesama nelayan Tanjung Kait dan nelayan Garok. Ke depannya saling menghormati saja dalam berusaha,” ungkap Jaro Yanto.
Di sisi lain, perwakilan nelayan garok Darsono menyayangkan adanya gesekan ini. Menurutnya, konflik mencuat akibat ulah segelintir oknum yang dampaknya justru merugikan seluruh komunitas nelayan.
”Yang namanya kita persatuan, jangan sampai perselisihan. Makanya orang yang bikin ulah orang satu-dua, ulahnya kena semua (ikut jelek namanya). Tapi kan biar sama-sama enak, entar ditunjukin orang yang bikin ulah itu,” kata Darsono.
Dengan adanya kesepakatan ini, diharapkan seluruh nelayan, baik nelayan bagan pancing maupun nelayan garok, dapat kembali beraktivitas secara berdampingan demi mewujudkan kesejahteraan bersama di wilayah perairan Tangerang dan sekitarnya. (*)











