TPA Cipeucang Tak Lagi Ideal, Pemkot Tangsel Maksimalkan Kerja Sama Dengan Pemkot Serang dan Biopori

CIPUTAT,BANTENEKSPRES.CO.ID – Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengungkapkan, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipeucang di Serpong sudah tidak lagi ideal untuk menampung sampah Kota Tangsel.

Menurut Benyamin, meskipun Pemkot Tangsel masih memiliki landfill 3 dan landfill 4 dengan luasan sekitar 8.000 meter persegi, area tersebut ke depan akan difokuskan untuk Material Recovery Facility (MRF), bukan untuk menampung sampah baru.

Bacaan Lainnya

““Faktanya, TPA Cipeucang itu sudah tidak mampu lagi menampung sampah Kota Tangsel. Jadi untuk sampah baru, sudah tidak ideal lagi ditempatkan di sana,” ujarnya kepada wartawan, Selasa, 3 Februari 2026.

Pria yang biasa disapa Pak Ben ini menambahkan, oleh karena itu pihaknya membangun kerja sama pengelolaan sampah dengan daerah lain. Salah satunya dengan Kota Serang yakni TPA Cilowong, yang saat ini sudah berjalan maksimal.

“Kerja sama dengan Kota Serang itu sekitar 400 ton per hari, bahkan hampir maksimal sampai 500 ton. Tapi idealnya 400 ton,” tambahnya.

Menurutnya, untuk mendukung kerja sama tersebut, Pemkot Tangsel akan menyiapkan sekitar 100 armada truk sampah. Saat ini, Pemda memiliki 27 truk, ditambah kontrak dengan pihak ketiga sebanyak 42 truk. “Dengan jumlah itu, sekarang sudah bisa kita maksimalkan,” jelasnya.

Pak Ben mengaku, hasilnya mulai terlihat di lapangan. Ia memastikan saat inspeksi terakhir, kondisi sampah di median jalan, khususnya di wilayah Ciputat, sudah jauh lebih tertangani. “Alhamdulillah kemarin saya inspeksi, sudah tidak ada lagi sampah di median jalan,” tuturnya

Selain kerja sama antar daerah, Pak Ben juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam pengelolaan sampah, khususnya melalui program biopori. Ia menargetkan pembuatan 10.000 hingga 20.000 lubang biopori di seluruh rumah tangga di Kota Tangsel.

“Target minimal saya 10.000 sampai 20.000 lubang biopori. Satu kelurahan mudah-mudahan bisa 500, bahkan kalau bisa 1.000,” ungkapnya.

Untuk mendukung program tersebut, Pemkot Tangsel menyiapkan mesin pembuat lubang biopori. Setiap kelurahan nantinya akan memiliki tujuh mesin, terdiri dari dua mesin yang disiapkan kelurahan dan lima mesin dari Dinas Cipta Karya.

“Jadi nanti tiap kelurahan ada tujuh mesin biopori. Peralon murah, pengadaannya bisa mandiri, tapi kalau perlu kita anggarkan di APBD perubahan,” katanya.

Sementara itu, tonase pengangkutan sampah ke TPA Cilowong terus meningkat. Awalnya hanya 10 truk dengan kapasitas 4 ton per truk atau sekitar 40 ton per hari. Angka tersebut kemudian naik menjadi 30 truk atau 120 ton, dan kini mencapai sekitar 70 truk atau 280 ton per hari. “Itu sudah cukup menyelesaikan persoalan,” ungkapnya.

Ke depan, Pemkot Tangsel menargetkan 100 truk pengangkut sampah ke TPA Cilowong. Penambahan armada akan dikaji melalui APBD Perubahan atau APBD 2027, sambil mempersiapkan kerja sama pengelolaan sampah melalui PSEL dengan daerah lain.

“Tahun ini targetnya 27 truk milik Pemda ditambah 42 truk kontraktual beroperasi. Ritase juga dimaksimalkan, satu truk bisa dua rit per hari,” tutupnya.

Sementara itu, salah seorang warga Ciputat, Soni, berharap Pemkot Tangerang Selatan benar-benar serius dan konsisten dalam menangani persoalan sampah di wilayahnya.

“Penanganan sampah harus cepat. Kalau dibiarkan terlalu lama, nanti justru bisa menimbulkan masalah baru,” ujarnya.

Menurut Soni, pengelolaan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat.

“Kita sebagai warga juga harus ikut bertanggung jawab, salah satunya dengan tidak membuang sampah sembarangan, seperti di trotoar jalan atau tempat yang tidak semestinya,” jelasnya. (*)

 

Pos terkait