TIGARAKSA,BANTENEKSPRES.CO.ID – Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid mengatakan, banjir kali ini menjadi ujian besar bagi pemerintah daerah dan masyarakat. Dari total 29 kecamatan di Kabupaten Tangerang, hanya dua kecamatan yang tidak terdampak banjir.
“Dari 29 kecamatan, sebanyak 27 kecamatan terdampak banjir. Ini kondisi yang tidak ringan dan pemerintah daerah terus turun langsung ke lapangan untuk memastikan masyarakat tertangani dengan baik,” ujarnya, Sabtu 31 Januari 2026.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), banjir berdampak pada 110 desa dengan jumlah warga terdampak mencapai 35.587 kepala keluarga atau 139.681 jiwa. Di mana, tujuh kecamatan di Kabupaten Tangerang hingga kini masih terdampak banjir. Yakni, Kecamatan Pakuhaji dengan desa terdampak Kohod dan Kali Baru. Lalu Kecamatan Rajeg meliputi Desa Mekarsari, Jambu Karya, dan Sukasari. Kemudian, Kecamatan Kemiri meliputi Desa Legok Sukamaju, Patramanggala, Karang Anyar, dan Klebet. Lalu, Kecamatan Kronjo meliputi Desa Muncung, Pasilian, Cirumpak, Pagedangan Udik, dan Pagedangan Hilir. Lalu, Kecamatan Gunung Kaler meliputi Desa Kandawati, Gunung Kaler, dan Kedung. Lalu, Kecamatan Kresek meliputi Desa Pasir Ampo, Koper, Patrasana, Talok, Renged, dan Kemuning. Serta, Kecamatan Mekarbaru meliputi Desa Jenggot dan Kedaung.
Maesyal menjelaskan, banjir bukan disebabkan oleh jebolnya tanggul melainkan dipicu oleh curah hujan tinggi dengan durasi panjang. Serta kiriman air dari wilayah hulu di mana Kabupaten Tangerang yang berada di wilayah hilir menjadi salah satu daerah paling terdampak.
“Ini bukan karena tanggul jebol, tetapi murni faktor alam, hujan yang sangat tinggi dan merata, ditambah kiriman air dari daerah hulu. Kabupaten Tangerang sebagai wilayah hilir tentu menerima dampak besar,” jelasnya.
Lanjut Maesyal, pemerintah daerah melakukan langkah-langkah teknis termasuk pembangunan dan penguatan pintu air di sejumlah sungai. Lalu, kata dia, masyarakat juga diajak untuk kembali menghidupkan budaya gotong royong, menjaga kebersihan lingkungan, serta memastikan saluran air tidak tersumbat sampah.
Maesyal memaparkan, bersama Gubernur Banten telah turun langsung melakukan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan kepala daerah di wilayah Tangerang Raya untuk mencari solusi jangka panjang penanganan banjir.
“Informasi yang kami terima, banjir kali ini disebut sebagai siklus seratus tahunan dengan volume hujan yang sangat tinggi. Mudah-mudahan dengan kesiapsiagaan semua pihak, dampaknya bisa kita minimalisir,” katanya.
Ia memastikan penanganan dan bantuan bagi warga terdampak berjalan optimal.
Pemerintah daerah melalui Dinas Sosial dan perangkat daerah terkait telah menyalurkan bantuan serta melakukan pendataan lanjutan bagi masyarakat terdampak banjir.
“Kami ingin memastikan pemerintah hadir bersama masyarakat. Hujan adalah rahmat, dan kita berharap air segera surut serta Kabupaten Tangerang terhindar dari bencana serupa ke depan,” jelasnya.(*)









