PAMULANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Tangsel masih mendalami kasus orang tua siswa yang melaporkan guru SDK Mater Dei ke polisi. Hal tersebut dilakukan untuk menentukan sikap apa yamg akan diambil oleh organisasi prefesi guru ini.
Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Tangsel Hamdani mengatakan, pihaknya sudah menginstruksikan kepada Ketua Cabang PGRI Pamulang untuk mendalami, menelusuri kejadian sebenarnya.
“Kita saat ini belum bisa ambil sikap karena masih menunggu hasil penelusuran yang dilakukan tim,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Rabu, 28 Januari 2026.
Hamdani menambahkan, bila kejadian ini benar seperti yang media massa beritakan maka dirinya menyayangkan orang tua murid yang melaporkan guru ke polisi. “Inikan persoalan edukasi, masak guru mengedukasi dipersalahkan dan tentu sebagai organisasi tidak terima dan guru yang bersangkutan akan kita bela,” tambahnya.
Menurutnya, apa yang dilakukan guru tentu dalam rangka pendidikan karakter, mendidik anak supaya berperilkau baik dan empati terhadap sesama. Bila ini benar maka pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangsel.
“Dari sisi organisasi kita akan bela profesinya, kita tidak mau juga orang tua juga terlalu lebay. Organisasi bela ini maksudnya ada upaya-upaya yang akan ditempuh untuk bela profesi,” jelasnya.
Hamdani mengaku, bila guru melakulan hal tersebut dilaporkan polisi maka membuat guru akan melaksanakan tugas hanya untuk menggugurkan kewajibannya saja. Berbeda antara guru dengan mendidik, guru hanya menyampaikan materi di kelas, sedangkan mendidik itu merupakan mengubah perilaku anak dari tidak baik menjadi baik.
“Yang paling sulit itu mendidik dan tidak semua guru bisa melakukan hal itu. Disetiap kelas tingkat kenakalannya beda-beda dan faktor utama kenakalan anak itu adalah didikan dari keluarganya. Dia itu dididik keluarga seperti apa,” ungkapnya.
Mantan Pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangsel ini mengaku, orang tua siswa juga diharapkan jangan terlalu lebay dan apa-apa langsung percaya sepenuhnya apa yang dikatakan anaknya.
“Diera sekarang ini kasian guru, disatu disi tuntutan tugas beban luar biasa beratnya, tapi disisi lain salah sedikit efeknya seperti itu, abis,” tuturnya.
Hamdani mengaku, pihaknya ingin dan sudah mengusulkan ke Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangsel bahwa dalam penyusunan pakta integritas di sekolah juga harus melibatkan orang tua. Jadi seluruh pelanggaran yang dilakukan siswa di sekolah itu yang menentukan orang tua dan guru hanya sebagai pengontrol saja.
“Misal anak terlambat sekolah, kan harus dihukum. Biar orang tua yang menentukan apa hukumannya,” tutupnya. (*)











